Akhirnya, sekali lagi, izinkan aku mengingat Mak Ca. Terutama pada kalimat yang pernah diucapkannya ketika sakit keras, bahwa dia tak mau meninggal. Sebelum melihat aku menikah dan punya anak. Dan memang, apa yang dikatakan itu terwujud. Mak Ca pun sembuh dari sakitnya. Dan sekian puluh tahun kemudian, setelah aku menikah dan punya anak pertama, barulah Mak Ca meninggal. Meninggal dengan masih sempat membelikan sebungkus nasi campur kesukaanku. Nasi campur yang dalam tatapanku saat itu, seperti sebungkus dunia yang gaib. Yang ketika aku buka, pun berlompatan apa-apa yang ada di dalamnya. Apa-apa yang tak pernah bisa tamat. Dan apa-apa yang membuatku cuma bisa menangis. Tangisan yang berair-mata warna-warni.
Kau Mendirikan Rumah
Kau mendirikan rumah. Aku mendirikan rumah. Rumahmu dan rumahku berhadapan. Seperti sepasang kekasih yang saling menatap. Dan sesekali merajuk dan melengos. Lumrah. Pintu dan jendela rumahmu terbuka. Begitu juga pintu dan jendela rumahku. Dan dari sana aku kerap mengintip dirimu? Apa kau memasak, membaca, atau memasang foto? Sayangnya tak jelas.
Dan pernah di suatu pagi rumahmu terkunci. Lampunya mati sejak malam. Guguran daun dan sampah bertebaran. Kenapa tak kau sapu? Apa kau sakit atau bepergian? Rasa cemasku menebal. Aku, ya, aku, begitu liar menggambarkan setiap depa dirimu. Dirimu yang diam-diam ingin aku masukkan ke kotak kaca. Aku pajang di beranda rumahku. Lampunya aku biarkan kedap-kedip.
Dan aku memutarinya sambil menebak. Tentang waktu mendatang. Waktu aku sudah tua. Dan gagal menulis hikayat kenangan. Kenangan tentang kita. Juga tentang rumahmu dan rumahku. Yang kerap membuat aku menceburkan kepala sendiri ke bak mandi. Agar dapat melepaskan semua hal yang ada tentangnya. Sebab nanti, pastilah, akan ada yang menjadi perhitungan yang tak meleset.
Perhitungan yang tak meleset? Perhitungan apa ini? Kata orang, itulah yang kelak akan menghadang kita di hari pembalasan. Sekaligus menguak sendi yang ada di diri kita. Terus ditanya: “Apa tanganmu pernah mencuri. Apa matamu pernah berbohong. Apa kakimu pernah menginjak. Apa dagingmu pernah beracun. Apa lidahmu pernah bermain?” Sampai habis. Sampai kita tinggal nama. Nama yang sebenarnya.
“Tapi, siapa namamu yang sebenarnya?” Dan itu pernah aku tanyakan padamu. Yang saat itu aku lihat sedang sibuk di genting rumahmu. Kau menyahut. Tapi tak jelas. Menyahut lagi. Tak jelas lagi. Lalu kau melengos. Meneruskan kesibukanmu. Aku merajuk sekaligus menggeleng. Waktu itu, aku melihat ada selengkung pelangi mengitari badanmu. Pelangi yang menyala. Pelangi yang lentur. Yang bergerak secergas ular.