Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada Si Tuan Resep

Lalu, paginya, aku melihatmu kembali menyapu halaman rumahmu. Kali ini, rasanya gerakan tanganmu demikian enteng. Dan juga baru aku tahu, jika kakimu tak lagi menjejak. Tapi mengambang. Mengambang sejengkal di atas tanah. Tak ada keringat. Tak ada bayangan dari badanmu. Semuanya tampak indah.

Sampai kemudian kau melirik padaku. Lirikan yang bukan milik laki-laki atau wanita. Tapi tetap membuat aku terpesona. Apalagi, selengkung pelangi yang mengitari badanmu tetap lentur. Dan tetap bergerak secergas ular. Dan, akh, tiba-tiba selengkung pelangimu itu melesat ke arahku. Aku tergeragap. Tapi terlambat. Aku dibebat olehnya. Dibebat sampai megap-megap. Dan rasanya aku masuk ke kedalaman. Kedalaman warna-warni. Dan aku tak tahu lagi, apakah aku masih berbentuk, atau sudah terurai?

Yang pasti, aku merasa tak lagi ingin apa-apa. Dan semua yang aku pegang pun ingin dilepas. Lepas, lepas, dan lepas. Dan aku yakin: “Dengan terlepasnya semua yang terpegang, aku pasti akan kembali ke sediakala. Untuk kemudian menceburkan kepala sendiri ke bak mandi.” Hmm, hari berlalu. Minggu pun berganti. Dan ternyata kita tetap seperti biasa. Dan rumahmu tetap di tempatnya. Rumahku juga begitu. Berhadapan. Seperti sepasang kekasih yang saling tatap. Yang sesekali merajuk dan melengos. Lumrah. (*)

 

(Gresik, 2017)

Mardi Luhung lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Puisinya tersebar di berbagai media. Tahun 2010 mendapatkan anugerah Khatulistiwa Literary Award. Buku cerpen pertamanya: Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku (2011).

Arsip Cerpen di Indonesia