Dua Cerita dari Si Tuan Pengen Tahu Kepada Si Tuan Resep

Kadang menegak. Lalu menjulur. Terus membebat. Menegak lagi. Menjulur lagi. Membebat lagi. Dan kembali melengkung seperti sediakala. Tapi kau tetap saja sibuk. Seperti tak merasa apa-apa. Malamnya, dari buku peninggalan kakekku, aku membaca, bahwa jika ada orang (laki-laki atau wanita), yang badannya dikitari selengkung pelangi, pertanda orang itu adalah insan dari sorga.

Astaga! Apakah kau memang insan dari sorga? Aku tak berani menjawab. Aku hanya menyimpan pertanyaan itu di dalam dada. Dan di dada itu, biarlah berdenyut. Seperti denyut si makhluk lembut. Si makhluk lembut yang melungker. Si makhluk lembut yang hidupnya cuma menunggu. Menunggu kedatangan si ksatria yang dipuja. Yang akan menciumnya. Terus membawanya ke negeri yang terimpikan. Aneh.

Dan keanehan pun memuncak. Ketika di suatu malam, aku melihat sebelas bayangan hitam bergentayangan di atas rumahmu. Sebelas bayangan hitam bersayap dan bersenjata lengkap.

“Ini rumahnya?”

“Benar.”

“Yang telah menewaskan teman kita?”

“Benar.”

“Ayo, kita libas!”

Dan menyerbulah sebelas bayangan hitam itu ke dalam rumahmu. Menyerbu dengan gesit dan terlatih. Suara letusan, teriakan, dan tubuh jatuh bersilangan. Aku ingin keluar dan membantumu. Tapi, kakiku terasa kaku.

Sejurus kemudian, aku melihat sebelas gumpalan api melesat dari rumahmu. Melesat dengan teriakan panjang. Terus ke langit. Dan meledak jadi sebelas bintang yang baru. Dan aku gemetar. Aku tak yakin dengan yang aku lihat. Tapi sebelas bintang yang baru itu demikian terang. Pasti jika ada peneropong yang melihatnya, segera mencatat sebagai temuan bintang baru yang mendebarkan.

Arsip Cerpen di Indonesia