Gelang Tali Kutang

Yang dia bayangkan ketika berjalan menjauhi teman-temannya hanya dua, hanya istri dan anaknya. Dia akan mengatakan: saya pulang, saya menepati janji saya. Meski lengan saya putus, saya tetap menepati janji bahwa saya akan pulang tanpa kurang satu apa pun. Kemudian dia akan meraih anaknya—entah lelaki atau perempuan—menggendongnya, menciumnya, dan tak akan lagi meninggalkannya.

Namun kini dia tersungkur, terisak, dan merasa hampa ketika tiba di kampungnya setelah sehari semalam berjalan kaki. Tidak ada istri, tidak ada anak, tidak ada apa pun di kampung itu, selain rongsokan sisa kebakaran. Ke mana orang-orang? Dia bertanya kepada dirinya sendiri. Siapa yang membakar? Tentara atau gerombolan? Dia tidak tahu jawabannya. Rongsokan yang ada di depannya tampak seperti sisa pembakaran yang baru.

Dia merasa semuanya sia-sia belaka. Kembali ke gunung hanya mempersingkat hidupnya dan bertahan di kampung sama menderitanya; menjalani hidup yang kosong dan hampa tidak lebih menyenangkan dibanding mati saat itu juga. Pikiran itulah yang membuatnya menempelkan pistol di keningnya. Pikiran lain bahwa dia harus menemukan istri dan anaknya yang lantas membuat hidupnya tidak berakhir. Kini dia kembali menyusuri jalan setapak menuju kota. Dia berdoa tidak bertemu pasukan gerilya atau tentara—keduanya merupakan musuh baginya. Dia juga berdoa semoga menemui seseorang yang bisa menunjukkan di mana istrinya berada atau paling tidak, ke mana orang-orang di kampungnya mengungsi. Atau mereka semua telah dibunuh? Pertanyaan itu membuat langkahnya semakin gontai dan air matanya kembali jatuh.

“Seharusnya kau tidak ikut naik gunung. Atau tidak seharusnya kau bertahan dua tahun di sana. Ketika tentara mendesak kalian dan membuat kau kehilangan sebelah lenganmu, sudah seharusnya kau turun gunung. Ikut Rahing sahabatmu yang kehilangan kaki kanannya. Istrimu juga sudah tentu melahirkan waktu itu, bukan? Kan .… kandungannya tujuh bulan saat kau tinggalkan. Sekarang kau menyesal? Terlambat!”

Sepanjang jalan, dia tidak berhenti berbicara kepada dirinya sendiri. Seakan semua hal yang patut disesali telah dia lakukan. Dia tiba-tiba mengingat Rahing yang turun gunung setelah mendengar kabar kematian orang tuanya, sekaligus untuk pemulihan luka agar tidak merepotkan. Kemungkinan yang paling baik jika mereka bertemu dan Rahing bisa memberi berita mengenai istri dan orang-orang di kampungnya. Jarak rumah Rahing dari kampungnya sekitar sehari berjalan kaki, itu bukan masalah. Yang jadi masalah, jika Rahing sudah menikah lalu ikut istrinya entah ke mana. Atau jika kampung Rahing dibakar juga, atau jika Rahing ditangkap tentara atau yang paling tidak diinginkannya; jika Rahing sudah mati, sudah tidak ada.

“Jika kau ikut Rahing, kau tidak akan kehilangan semuanya seperti saat ini. Kehilangan kawan seperjuangan, kehilangan keluarga.”

Arsip Cerpen di Indonesia