Dia mengenal suara itu. Orang-orang sudah berkerumun ketika dia berbalik badan berusaha mencari arah datangnya suara tadi—dan akhirnya dia menemukan Side, sahabatnya yang kini jadi guru mengaji.
“Side? Iya, saya Hamma.”
Mereka berpelukan tidak lama sebelum Side memegangi wajahnya, mencari-cari sisa keperkasaan Hamma dari sesosok tubuh yang ringkih.
“Semua orang mengiramu sudah mati. Bahkan istrimu sudah merelakanmu.”
“Apa maksud kau, Side?”
“Syukurlah kau selamat.” Side mengambil napas, “Rahing turun gunung dan membawa kabar kematianmu sekaligus menyampaikan wasiat darimu.”
“Wasiat?”
“Dia membawa gelang milikmu yang berlumuran darah. Istrimu menangis sepanjang hari. Rahing kemudian menyampaikan wasiatmu bahwa dia harus menikah dengan istrimu agar anakmu tetap memiliki ayah.”
Semua sendi di tubuh Hamma seperti ditanggalkan oleh cerita Side. Dia lemas dan penglihatannya lantas lamur dan merasa tubuh ringkihnya tak punya tenaga lagi.
“Anak dan istrimu sekarang tinggal bersamanya. Rahing menikahi istrimu.”
“Daeng Hamma?”
Suara seorang perempuan menghentikan cerita Side. Hamma sangat mengenal suara dan panggilan itu. Tidak mungkin salah, pasti itu suara istrinya. Tanpa berbalik badan, Hamma buru-buru menutup wajahnya dengan sarung bungkusan lantas berjalan cepat menjauhi kerumunan. Dia kalah, dia menangis—tanpa suara, tetapi air matanya terus jatuh. Semua yang dia miliki kini hanyalah angin dalam genggaman. Dia buah busuk yang jatuh ke batu setelah diempaskan burung yang tidak sudi memakannya.
Dia terus berjalan menuju kaki gunung tetapi tiba-tiba berhenti dan membalik arah menuju pusat kota Sengkang, menuju pos tentara. Belum sepuluh langkah, dia berhenti lagi lalu kembali memutar arah—dia melakukannya berkali-kali. Dan akhirnya, dia melekatkan ujung pistol di keningnya. Tangisannya belum berhenti. Air mata membelah sepasang pipinya yang tirus-legam dan mulai keriput. Sebelum pelatuk dia tarik, sebelum dia mengakhiri hidupnya, dia sadar bahwa sudah hampir sebulan pistol itu tidak berisi. Dia masih punya badik di pinggang kirinya, tetapi …. dia tiba-tiba membayangkan Rahing menimang anaknya, memeluk istrinya—dia melihat keluarga bahagia itu menertawainya. Dia melihat dirinya meringkuk dalam tangisan.
Dia kembali mengubah arah. Dia berjalan dengan badik terhunus, bukan ke arah gunung, bukan juga ke arah Sengkang.
Wajo, 2017
Faisal Oddang, mahasiswa sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin. Menulis novel Puya ke Puya yang menjadi salah satu pemenang sayembara novel DKJ 2014, serta menjadi novel terbaik pilihan Tempo 2015. Menerima anugerah ASEAN Young Writers Award 2014 dari pemerintah Thailand. Sedang menyiapkan kumpulan puisi Perkabungan untuk Cinta dan novel Tiba Sebelum Berangkat.