Hamma membenarkan posisi duduknya di atas tikar pandan. Sementara Rahing telah bersila dan menyembunyikan kakinya di balik sarung. Mereka berhadapan-bertatapan dengan mata sepasang sahabat yang seakan begitu lama dipisahkan. Belum ada yang sempat bertanya mengenai kabar masing-masing. Dengan melihat Rahing masih tampak tegap tak termakan usia, itu sudah cukup bagi Hamma untuk menjawab semua pertanyaan tentang kabar. Lagi pula, pelukannya telanjur mendarat di tubuh Rahing tanpa sempat mengucapkan satu kata.
“Kamu tidak seharusnya di sini, bahaya. Tentara mengawasi rumah ini. Dua hari lalu kampungmu dibakar, sebentar lagi kampung ini. Untung saya bersih bagi mereka. Pergi sebelum terlambat!”
Hamma tidak menduga bahwa kalimat itulah yang akan dia dengar pertama kali dari sahabatnya. Tanpa basa-basi, Rahing menyuruhnya pergi.
“Saya ke sini untuk meminta bantuanmu.”
“Tidak menampungmu di rumah ini merupakan bantuan paling berguna, Hamma. Nyawamu sungguh penting.”
“Baik, setelah kau tunjukkan di mana orang-orang di kampung saya mengungsi.”
“Mereka di Sengkang. Diamankan tentara.”
Hamma lega. Lega sekaligus resah. Tidak mungkin menyusul istrinya ke sana.
“Sekarang hari pasar, banyak tentara berkeliaran. Pergi sekarang!”
“Kau tahu istriku di mana?”
Tidak ada jawaban dari Rahing sebab tiba-tiba terdengar tangisan anak kecil yang membuatnya buru-buru meraih tongkat lantas terpincang-pincang ke ruang belakang rumah panggungnya.
“Hamma, ini demi keselamatanmu, pergi sekarang!”
Dengan berat, Hamma berdiri lalu menuruni tangga sambil membayangkan apa yang terjadi pada istrinya di Sengkang. Rahing berlaku demikian, pasti karena keadaan sungguh tidak aman. Hamma kini menyusuri jalan menuju pasar yang juga menjadi penghubung jalan menuju tempat pengungsi berada. Dia sungguh hati-hati dan sesekali mengawasi keadaan di sekelilingnya. Pasar sudah bubar. Dia tidak bisa menghindar dari tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya. Beberapa mengabaikan, tetapi lebih banyak yang menatapnya penuh curiga. Semakin dia mendekati pasar, semakin ramai orang yang memperhatikannya.
“Kau, Muhammad Naing?”