Gelang Tali Kutang

Memang, ada sesal di dalam dirinya. Ketika memutuskan naik gunung dan bertempur dari hutan ke hutan, dia, Dullah, dan Rahing berjanji untuk tidak saling meninggalkan—mereka bersahabat. Mereka sebenarnya tidak bertiga, ada Side—sahabatnya yang lain, yang memilih menjadi guru mengaji untuk anak-anak pedagang pasar di kampungnya. Waktu mengubah keadaan. Waktu pula yang membuatnya kini menyusuri jalan setapak yang membelah perkampungan. Dia hanya menyusurinya, benar-benar menyusurinya. Dia tidak tahu akan ke mana atau paling tidak, berhenti di mana.

“Saya turun gunung, tetapi saya, kau, Side dan Dullah akan selalu bersahabat. Kita akan bertemu di bawah sana, suatu saat nanti.”

Dia tiba-tiba mengingat kalimat terakhir Rahing kepadanya. Ya, kita harus bertemu, Rahing, masalahnya kau ada di mana? Dia terus berjalan.

“Jangan kurang apa pun dari dirimu. Ini kuberikan gelang sebagai jimat untuk keselamatanmu. Kujahit dari tali kutang milikku. Jangan pernah terpisah dari gelang ini, maka kita akan terus menyatu dan kamu akan selalu dalam lindungan Tuhan.”

Itu kalimat terakhir istrinya. Ketika kalimat itu selesai, dengan berat, akhirnya Hamma berangkat setelah berjanji untuk pulang secepat mungkin. Dia tiba-tiba berhenti lalu berteduh di bawah pohon asam di sisi jalan. Dia membuka bungkusannya. Sejak memindahkan badik ke pinggang, isi bungkusan itu sisa pistol dan tulang lengannya. Dia mencari sesuatu—dan selalu tak menemukannya. Sesuatu itu hilang sejak ledakan yang memutus lengannya. Hanya rasa cinta dan rindulah yang membuatnya masih terus mencari meski dia sungguh yakin, gelang itu tak pernah ada dalam bungkusan.

“Seharusnya ketika Rahing turun gunung, saya menitip istri saya agar dibawa ke tempat aman. Tetapi mana saya tahu kalau keadaan akan sekacau ini? Toh, saya juga tidak bisa menebak kalau akhirnya kami akan terdesak. Ini salah saya!”

Dia semakin didera rasa bersalah.

Jarak kampung Rahing sudah dekat. Soal Rahing, Dullah dan Side—ketiganya punya jasa yang cukup besar untuk hidup Hamma yang sekarang. Pada masa perang kemerdekaan, Hamma pernah hampir meninggal dikepung tentara musuh, untung tiga orang itu datang menghalau—sejak itu mereka bersahabat dan berjanji sehidup dan semati. Setelah merdeka, Rahing, Side, dan Dullah pula yang menyampaikan lamaran kepada istrinya yang sekarang dia cari. Meski kini mereka sudah berbeda arah dan tempat—janji itu mereka masih pegang. Itulah yang sedikit memberi harapan buat Hamma. Harapan bernama Rahing. Rahing yang berjanji akan membantu perjuangan meski tidak di gunung lagi, tentu tidak akan menolak diminta bantuan untuk menunjukkan tempat warga mengungsi. Sebenarnya Side bisa pula membantu, tetapi jelas bahwa Rahing lebih tahu banyak mengenai pergerakan tentara.

***

Arsip Cerpen di Indonesia