Tentu awalnya aku terganggu oleh aroma cairan kimia yang menusuk, hingga kerap membuatku hampir muntah. Tapi lama-kelamaan aroma itu lenyap. Aku pun bisa kembali mendekat pada kakek dan duduk di tepi pembaringannya. Aku bisa bercerita padanya tentang apa saja, terutama tentang tangan-tangan yang muncul di dinding belakang rumah ini. Tapi kali ini, kakek hanya bisa diam.
Aku rindu kakek yang hidup. Kakek selalu punya ide cemerlang. Ia humoris, walau sebenarnya sangat kejam. Dulu waktu aku mengeluhkan perlakuan ayah yang sering memukulku dengan kursi, kakek berbisik, “Kau mau agar bajingan itu tak lagi bertingkah?” matanya berkilat mengerikan, “Saat ia tidur, kau tusuk saja ia dengan belati dapur. Lalu gelindingkan tubuhnya ke jurang di belakang rumah, tapi jangan lupa mengambil hatinya lebih dulu untuk anjing buduk yang sering kencing di depan pintu rumah kita. Ia layak mendapat hati busuk itu, karena sudah 4 kali bajingan itu menembaknya…”
Aku hanya bisa ikut menyeringai dengan aneh. Tentu saja, aku tak akan berani melakukan ide gila itu. Walau bentuk fisikku seperti ayah, hatiku seperti ibu. Pendiam dan pasrah serta tak suka melawan. Aku tak mungkin nekat melakukan apa pun pada ayah. Bisa kubayangkan, ayah pasti dengan mudah akan membantingku, walau ia setengah tak sadar sekalipun. Tak hanya itu, ia juga memiliki senapan panjang yang selalu ditentengnya ke mana-mana. Memang hanya senapan angin untuk berburu tupai saja, tapi aku tahu dengan senapan itulah, ia sudah menembak beberapa orang di sekitar rumah ini.
BELAKANGAN ini aku merasa keadaan rumah semakin mengerikan. Tangan-tangan di dinding itu semakin sering muncul. Tak hanya sesekali seperti dulu, tapi kini hampir setiap malam. Suara samar yang selama ini hanya kudengar lamat-lamat pun, kini mulai terdengar lebih jelas. Seperti suara-suara orang yang merintih-rintih meminta tolong.