Aku merasa sedih akan meninggalkannya. Tapi melihat perlakuan ayah padanya, aku bisa sedikit lebih tenang.
Di kamar, aku menghitung uang yang kusimpan. Kupikir uang ini cukup untuk membeli tiket kereta menuju kota terjauh. Asal pergi dari kota ini, aku yakin akan bertahan hidup. Aku bisa bekerja apa pun. Pekerjaan kasar sekalipun.
Tapi sehari sebelum aku pergi, aku dikejutkan oleh teriakan ibu. Ibu ternyata berjalan hingga ke bagian belakang rumah. Padahal selama ini, ia tak pernah keluar dari kamarnya. Tangan-tangan yang muncul di dinding itu pun dengan mudah menarik tubuhnya. Aku masih sempat melihat tangan ibu menggapai-gapai lantai. Tapi kedatanganku terlambat.
Yang kulihat kemudian, dinding itu seperti berubah menjadi sebuah lorong gelap. Dan tubuh ibu menghilang di sana, disusul lenyapnya tangan-tangan yang meraihnya..
Aku seperti baru tersadar saat suasana kembali hening. Aku hanya bisa menangis pilu. Kuambil linggis. Lalu kucoba memecahkan dinding. Tapi linggis pun ternyata tak cukup bisa melakukan apa-apa pada dinding itu. Sampai habis tenagaku, aku hanya bisa terpuruk.
AKU membatalkan kepergianku. Setidaknya aku harus mengatakan kejadian ini pada ayah lebih dahulu. Baru setelah itulah aku akan pergi.
Tapi ayah pulang dalam kondisi mengerikan. Tubuhnya penuh darah. Dapat kulihat jelas kalau dadanya tertembak. Dengan kekuatan dan keberaniannya, ia mengeluarkan peluru di tubuhnya itu hanya dengan modal sebotol alkohol dan sebuah penjepit.
Sementara, di luar rumah, mulai kudengar suara sirene mobil polisi meraung-raung. Dari jendela, kulihat barisan massa juga tengah mendekati rumah. Obor-obor mereka berderet panjang. Aku menebak, ayah pastilah telah melakukan sesuatu hal yang membuat orang-orang itu begitu marah.