Terkutuk

“Manusia-manusia terkutuk!” seru ayah sambil mengisi senapan anginnya.

“Kau bawalah ibumu ke belakang!” teriaknya.

Tapi aku hanya diam di ambang pintu. “Ibu sudah tak ada. Tangan-tangan yang keluar di dinding itu sudah menariknya ke sana!”

“Apaaa?” teriakan ayah terdengar melengking. “Dasar anak tak berguna!” ia hendak menghantamkan kursi padaku, tapi aku dengan cepat berkelit. Ia tentu tak menyangka kalau kini aku tak lagi pasrah dengan perlakuannya.

Ayah setengah berlari ke belakang dan menatap dinding itu. Saat ia melihat linggis yang tergeletak di situ, segera diayunkannya ke dinding itu. Tapi yang dilakukannya tak jauh berbeda dengan apa yang kulakukan. Semua sia-sia.

Sementara di luar sana, polisi sudah berkali-kali memintanya keluar. Warga yang tampak marah sudah melemparkan obor ke rumah kami. Aku melihat semuanya dengan kalut. Kulihat api mulai membesar di sisi samping rumah.

Kulihat ayah menggeram marah. Ia mengambil senapannya dan mulai menembak ke luar. Aku tak tahu apa tembakannya mengenai sasaran atau tidak. Yang kutahu, api semakin membesar. Langit-langit kamar ibu sudah dilalapnya.

Aku berlari ke ruang belakang. Tapi api seperti mengejarku. Suara tembakan kudengar berkali-kali. Juga teriakan panjang ayah. Aku merasa seseorang telah berhasil menembaknya, karena setelah itu aku tak lagi mendengar suara tembakan dari kamar ayah. Saat itulah aku seperti mendengar suara-suara samar di antara teriakan orang-orang di luar sana. Mataku kemudian menatap ke arah dinding di belakang rumah. Tangan-tangan itu rupanya telah kembali muncul di sana.

Sementara api makin membesar, mendekatiku. Rasa panas seperti mulai membakarku. Dan tangan-tangan itu tak henti menggapai-gapai. Suara-suaranya semakin keras. Api seperti membuatku terseret ke sana. Lalu, di satu detik yang paling menakutkan, tangan-tangan itu merenggut tubuhku dan menariknya ke dalam lorong yang gelap itu….

Yudhi Herwibowo. Aktif di buletin sastra Pawon, Solo. Novel karyanya Halaman Terakhir, sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng (Noura); dan Cameo Revenge (Grasindo).

Arsip Cerpen di Indonesia