Terkutuk

Ya, semen dan cat. Dinding di belakang rumah itu memang selalu masih menggangguku. Kupikir bila disemen dan dicat, mungkin tangan-tangan dan suara-suara mengerikan itu tak lagi muncul.

Maka dengan takut-takut, aku mendekat ke dinding itu di siang hari bolong. Saat seperti itu biasanya tak terjadi apa-apa. Tangan-tangan itu memang hanya muncul di malam hari. Aku segera mengambil adonan semen, dan melemparkannya di dinding. Tapi adonan itu ternyata tak bisa menempel di situ. Setiap aku melemparnya—dengan takaran berapa pun—ia selalu jatuh ke lantai.

SEMAKIN lama aku seperti terjebak di rumah terkutuk ini. Aku benar-benar merasa sendirian di sini. Bila sudah seperti ini, aku memilih masuk ke kamar kakek, dan mengeluh padanya.

“Aku harus bagaimana? Aku semakin takut tinggal di sini?” kupegang tangan kakek yang kaku. Aku ingat, dulu waktu pertama kali tangan-tangan itu muncul, hanya kakek yang datang mengeceknya ke belakang, Waktu itu sudah tengah malam, ia dengan berani menghampiri dinding itu. Masih kuingat tubuhku yang beku saat itu, saat melihat kakek begitu dekatnya dengan tangan-tangan di dinding itu.

Tapi kakek hanya diam di situ. Ia mengambil rokoknya yang masih separuh terhisap, dan menyerahkan pada salah satu tangan yang terdekat. Komentarnya padaku setelah itu, “Mereka tak suka rokok. Jadi jangan terlalu kau pikirkan!”

Aku tak tahu apakah saat itu kakek mencoba menghiburku. Namun yang pasti, ulahnya sedikit-banyak membuat ketakutanku berkurang.

Sungguh, bila mengingat kejadian itu, air mataku pastilah menggenang. Namun, kini tentu saja kakek tak bisa apa-apa lagi.

Aku terus memikirkan untuk pergi. Keinginan itu tak bisa lagi kutahan saat ayah tengah pergi dari rumah. Jadi hari ini kugunakan untuk merawat ibu. Kumandikan ia dan kupotongi kukunya yang hitam. Aku tahu ini pekerjaan yang percuma. Kuku-kuku itu akan selalu kembali hitam sehari kemudian. Aku tak tahu apa yang dilakukannya hingga bisa seperti itu.

Arsip Cerpen di Indonesia