Ini membuatku ingin sekali pergi dari rumah. Tapi tentu aku tak bisa melakukannya. Bagaimanapun ada ibu di sini. Ia tak bisa kutinggalkan. Pernah dulu aku mengajaknya kabur. Tapi saat kutarik tangannya, ia malah menepisnya dengan kuat, dan tetap melanjutkan menghitung garis-garis di dinding kamarnya.
Aku sedih melihat ibu. Tapi tak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya, ayah tak berbuat jahat padanya. Kupikir ia mencintai ibu. Tapi aku tak yakin. Tapi setidaknya ia membutuhkan ibu dalam hal-hal tertentu. Karena beberapa hari sekali, aku tahu ia memandikan ibu, lalu memakaikan pakaian yang bersih. Bisa kutebak, diam-diam ia akan bercinta dengan ibu. Suara lenguhannya yang seperti babi ngorok bisa kudengar sampai kamarku.
Selain soal tangan-tangan yang muncul di dinding belakang rumah, masih ada masalah lain di rumah ini. Semua tentu karena ulah ayah yang seenaknya. Kemarin seorang polisi sampai datang ke rumah untuk menemuinya. Ia mendapat laporan, ayah baru saja menembak kaki seseorang tetangga. Seketika ayah berubah menjadi begitu ramah. Ia menawari polisi itu minum minuman kaleng dingin. Lalu saat polisi itu lengah, ia memukulnya dengan kursi yang biasa digunakannya untuk memukulku. Setelah itu, ia melemparkan tubuh polisi itu begitu saja ke jurang, yang ada di belakang rumah.
Aku hanya bisa diam melihatnya. Semakin hari, ayah memang menjadi monster yang semakin mengerikan. Aku tak pernah bisa menebak apa yang dipikirkannya. Sama seperti selama ini, aku tak bisa menebak apa pekerjaannya. Yang kutahu, setiap ia pergi, entah sebentar atau sampai berhari-hari, ia akan pulang dengan membawa banyak uang. Ia bahkan pernah membeli makanan sampai mobilnya penuh sesak. Selebihnya yang kutahu, ayah akan tidur di depan jendela kamarnya melihat ke jalanan di bawah sana.
Aku menebak, ayah telah merampok, atau mencuri. Kupikir orang dengan tabiat sepertinya tak mungkin bekerja baik-baik. Apalagi yang didapat bukan uang sedikit. Aku pernah melirik kamarnya, dan lembaran uang berhambur di atas kasurnya, bagai daun-daun kering yang tak berharga.
Bila hatinya sedang baik, ia hanya akan menyeringai padaku, dan menyuruhku mengambil beberapa lembar. Uang darinya sampai sekarang kusimpan baik-baik. Kupikir bila tiba waktunya aku pergi nanti, uang itu akan sangat bermanfaat. Jadi sedikit saja yang kupakai, paling hanya untuk membeli pakaian dan membeli semen dan cat.