Dua Telapak Tangan Umirra

Kau sendiri mulai terganggu dengan tanganmu. Untuk mengurangi hawa panas yang berlebihan, aku juga menyediakan sebaskom air es di dekatmu. Bila kau telah tak tahan dengan hawa panas yang keluar, kau akan memasukkan tanganmu ke situ.

Aku juga menyediakan sarung tangan untukmu. Awanya sarung tangan biasa. Namun itu selalu rusak dalam dua hari berselang. Aku pun kemudian mulai membelikan sarung tangan tebal yang biasa dipakai di daerah dingin. Setidaknya itu bisa bertahan sekitar 2 minggu. Biasanya, aku akan melontarkan gurauan saat kau memakainya, “Lihat, sarung tangan buatan luar negeri memang jauh lebih kuat…”

Awalnya tentu kau juga terlihat gembira. Tawamu masih terdengar menggemaskan. Tambahan pertanyaan-pertanyaanmu yang macam-macam, seperti: “Kenapa aku harus melakukan ini, tapi Niken dan Auri tidak?” Dan aku harus mencoba menjawabnya selucu mungkin.

Sayangnya kegembiraan itu tak lama. Hanya dua tahun berselang, kau sepertinya mulai sadar, kalau kau memang berbeda dari lainnya.

Sejak itu, kau tak bertanya-tanya lagi. Aku bahkan melihatmu, enggan menyentuh apa-apa. Bahkan menyentuh diriku. Kau akan lebih banyak berdiam diri di kamarmu. Memandang jendela yang menghantarkan pemandangan indah di kejauhan.

Saat kau berumur 13 tahun, aku pernah mengajakmu menonton film Frozen. Film yang begitu hebohnya, sehingga anak-anak begitu menggilainya.

Seharusnya ada Amirra bersama kita. Tapi sejak 5 tahun yang lalu, mamamu telah pergi meninggalkan kita. Jadi hari itu, hanya kita berdua saja yang menyaksikan film itu.

Sebelumnya aku tak terlalu tahu cerita film ini. Tapi saat film berlangsung, perasaaku tiba-tiba terasa tak enak. Dua kakak-beradik yang menjadi tokoh utama di film ini harus berpisah karena sang kakak memiliki kutukan di dua tangannya. Apa pun yang disentuhnya akan membeku menjadi es.

Arsip Cerpen di Indonesia