Dua Telapak Tangan Umirra

“Apa papa pernah membayangkan, apa yang kurasa di tubuhku?”

Aku terdiam. Itu pertanyaan yang dulu kerap kutanyakan padamu. Dan kau selalu menjawab, “Tak ada apa-apa di tubuhku.”

Tapi kini, kau malah balik menanyakannya padaku.

“Apakah… kau merasakan sakit?” tanyaku.

Kali ini kau mengangguk. Sungguh, anggukan yang nyaris tak terlihat itu begitu meremukkan hatiku.

“Semua tak akan menjadi baik, Papa…” ujarmu lagi.

“Selalu akan ada jalan, Sayang…”

“Sampai kapan Papa? Sampai semua hancur? Termasuk… papa?”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Ingin sebenarnya kukatakan, tak mengapa semua hancur termasuk diriku, asal kau dapat sembuh dari sakitmu. Tapi kupikir jawaban itu tak tepat kulontarkan kali ini.

Malam ini, semua seperti bergerak lebih lambat. Kesunyian seperti ada di titik paling sempurna. Sesempurna penderitaan yang bisa diberikan Tuhan padamu.

Esok paginya, aku menemukanmu masih terlelap di pembaringan. Matamu terpejam dengan senyuman yang membuatku senang.

“Sayang…” aku menyentuhmu.

Tapi tak ada jawaban. Hanya selimut yang kusentuh tiba-tiba terjatuh di lantai, seiring jatuhnya dua sarung tangan yang biasa kau pakai.

Aku tercekat. Tubuhku tiba-tiba gemetar, terlebih saat kulihat dua telapak tanganmu yang kau tempelkan di dadamu.

Aku terpuruk dalam tangisanku. ***

Yudhi Herwibowo. Menulis beberapa novel. Salah satunya Halaman Terakhir, sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng (Nourabooks).

Arsip Cerpen di Indonesia