Dua Telapak Tangan Umirra

Seperti hari ini… Dari arah jendela kamar, aku melihatmu menolong anak burung yang terjatuh dari pohon. Aku tahu, kau ingin segera mungkin menolong burung itu, dan mengembalikan ke sarangnya. Tapi yang terjadi, hanya beberapa saat di tanganmu, burung kecil itu mati. Sayap-sayapnya seperti gosong terbakar.

Aku sedih melihatmu begitu bersedih menatap anak burung itu. Aku segera keluar untuk memeluk pundakmu.

“Padahal aku hanya menyentuhnya sebentar saja,” isakmu.

Aku hanya bisa memeluknya erat-erat. Tapi seperti biasa, kau akan melepasnya. Kali ini dengan sinar mata yang tak bisa kutebak, seakan ada sebuah pikiran yang tiba-tiba mengganggu dirimu.

“Papa…” kurasakan getaran di suaramu, “apakah mama meninggal… karena aku?”

Aku terkejut. “Tentu saja bukan,” jawabku cepat.

“Sejak aku kecil, mama yang selalu memelukku. Dan papa tahu bukan, apa yang terjadi dengan semua hal yang selalu kupeluk? Guling-guling… sarung tangan… dan boneka-boneka itu… semuanya perlahan-lahan hancur…”

Aku tercekat dengan apa yang dipikirkannya.

“Papa… tak usah menyembunyikannya lagi.”

“Aku tentu tak menyembunyikan apa-apa. Mamamu memang pergi karena sakit…”

Dan kau tak berkata-kata lagi. Tapi aku tahu, pikirannya menjadi begitu bergejolak. Kini kau bukan lagi gadis kecil seperti dulu. Kau telah berusia 17 tahun, dan bisa menyimpulkan segalanya sendiri.

Selang beberapa hari dari hari itu, kutemui kau tengah mencoba memotong tanganmu dengan pisau dapur. Teriakan pendekmu, membuatku tahu ada sesuatu dalam kamarmu. Maka aku pun segera mendobrak pintu.

Arsip Cerpen di Indonesia