Aku tiba-tiba merasa salah telah mengajak dirimu menonton film ini. Tapi aku mencoba menghibur diri saat melihat akhir film yang bahagia.
Saat semua orang mulai keluar dari bioskop, kau tak juga beranjak.
“Tangan Elsa… tak jauh berbeda dengan tanganku, Papa…” ujarmu.
Aku tak langsung menjawab. “Ya, tak jauh berbeda. Dan kau bisa lihat bukan, akhir ceritanya? Semua berakhir indah pada waktunya.”
Kau hanya diam dan mulai bangkit dari kursimu. “Itu hanya film, Papa. Film harus berakhir bahagia untuk menyenangkan siapa pun yang sudah membayar tiket. Apalagi… ini film untuk anak-anak…”
Sebelum kujawab, kau sudah melangkah ke luar. “Lagian… aku tak suka film ini. Elsa terlalu berlebihan. Seharusnya ia tak begitu. Yang dilakukan kedua tangannya hanya membekukan segala hal. Bukankah tetap ada harapan dari semua yang membeku?”
Kau memandangku sejenak, “Tapi… tidak dengan dua tanganku. Semua hancur di tanganku. Semua mati. Tentu yang hancur dan yang mati, tak punya harapan apa-apa…”
Kesedihan memang telah bersemayam di rumah kami yang kecil. Tak pernah lagi ada tawa, tak pernah ada kegembiraan. Sampai bertahun-tahun aku masih mengupayakan itu semua. Aku banyak menyetel film-film komedi, dan mengajakmu menonton bersama. Aku juga akan tertawa keras di scene-scene yang lucu. Tapi kau selalu tak bereaksi. Lama-lama film pun terasa hambar.
Hampir 4 tahun lewat, aku nyaris menyerah. Kau seperti telah mendapatkan duniamu sendiri. Kamarmu yang selalu tertutup. Musik yang kau setel pelan-pelan. Hanya sesekali kau keluar dari kamarmu untuk ke halaman belakang rumah.