Dua Telapak Tangan Umirra

“Anak bodoh! Apa yang kau lakukan?!” Aku segera mengikat tanganmu, agar darah tak terus keluar.

Kau tak menjawab. Kau hanya menangis.

Aku segera menggendongmu keluar. Kududukkan dirimu dalam kursi mobil. Lalu kunyalaklan mobil secepat yang kubisa. Kepanikan tak juga hilang sepanjang perjalanan.

“Papa…” suaramu membuatku menoleh, “maafkan… aku… ”

“Jangan lakukan itu lagi. Berjanjilah padaku!”

Kau tak berkata apa-apa. Kau dapat selamat hari itu. Tapi tak bisa kupungkiri semua menjadi semakin buruk. Ruangan kamarmu pelan-pelan terasa hancur. Dipan, kursi dan meja belajar, seperti melapuk dan patah, dinding menghitam seakan ada bara api yang terus menyala, dan 2 AC yang ada di kamarmu tak bisa lagi bisa menyala.

Hari saat kau akan memotong tanganmu adalah hari yang paling menakutkan bagiku. Sejak itu aku mengambil kunci kamarmu dan tidur di ruang tengah, agar sewaktu-waktu dapat tahu apa yang terjadi di kamarmu.

Aku terus mencoba untuk tidak menyerah. Aku tak ingin kalah. Tapi kesedihan ini benar-benar telah meruntuhkan sebuah bentuk kegembiraan yang tersisa.

“Papa… semua semakin mengerikan,” ujarmu dengan nada muram.

Aku diam. Kucoba memegang tanganmu yang memakai sarung tangan tebal. Tapi lagi-lagi, kau menepisnya perlahan.

Arsip Cerpen di Indonesia