Sekali lagi, aku menghirup aroma dalam cangkir dengan tarikan napas panjang. Ibu si pemilik lesehan datang menanyakan makanan apa yang hendak kami pesan.
“Na tinombur. Pilihkan jantan untukku, Namboru (bibi),” pinta Mura.
“Memang bisa?”
“Bisalah. Masa kau tak tahu?”
“Caranya?”
Mura menjelaskan ikan jantan bentuknya lebih ramping. Ada dua lubang di bagian belakang bawah ekornya. Jika kau pencet, maka dari salah satunya akan keluar cairan putih, katanya, seperti seorang ahli.
“Betina?”
“Betina, ya, bertelur.”
“Kalau begitu aku pesan yang betina saja, Bu,” ujarku pada ibu pemilik lesehan.
“Kau memanggilnya: Bu? Ibu?” protes Mura.
“Apa salahnya?”
“Ya, jelas salah. Dia itu orang Batak, sama kayak kita,” Mura menertawakanku yang kurang paham akan tutur sapa dalam daerah sendiri. Aku meremas cangkir, mulai kesal. Selanjutnya kudesak Mura ke arah mana pembicaraan kami sebenarnya.
“Hei, jangan buru-buru. Bukankah kita sudah meluangkan waktu untuk bersama seharian ini?” tuntut Mura sambil merapikan poni tertiup angin.
Aku membiarkan mataku mencemburui jemari Mura. Kukunya sedikit panjang dan mengilap. Sepertinya dia sangat rajin merawatnya dan sudah pasti laki-laki akan senang menggenggam itu. Kulihat jemariku. Gemuk-gemuk. Pendek. Haduh, batinku. Ini jari-jari, tanyaku. Jari-jariku, tanyaku sekali lagi seolah baru saja memilikinya. Lalu aku sedih kenapa jemariku tidak selentik jemari Mura. Kuku-kukuku mudah patah, padahal aku sudah mengurangi kegiatan mencuci piring termasuk membiarkan Mama saja yang memasak.