Handphone-ku bergetar. Dunia terlihat gelap dan aku tak ingin percaya kalau ini hari Sabtu sebab di sekelilingku banyak sekali orang pacaran. Saat nada dering berhenti, aku membaca banyak panggilan tak terjawab. Aku menatapnya dengan perasaan sendirian. Perasaan kosong. Perasaan mati. Barangkali saat ini telapak tangan mereka sudah sama-sama hangatnya. Bila dada mereka serempak berdebar, apakah Mura memejamkan mata? Aku mengingat-ingat seperti apa dulu rasanya didekap pertama kali. Seperti orang bodoh. Hangat menjalar. Seperti tersengat listrik namun yakin itu tak membahayakan.
Nada dering pesan kudengar masuk. Aku lalu membacanya, “Kau di mana, Bulan? tanya Mama, “akuarium hatinya pecah, dan ketiga ikan-ikanmu tak bisa Mama temukan.” **
Catatan:
Ito = tutur sapa antara pria dan wanita di suku Batak. Tapi ‘ito’ dalam hal ini adalah tentang marga yang berada di bawah sub marga tertentu. Masih satu rumpun. Tidak boleh saling menikahi.
Na tinombur = Ikan bakar bumbu kuning.
Riau, Februari 2017
Jeli Manalu, lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Cerpennya pernah tersiar di Analisa, Sumut Pos, Media Indonesia, Majalah Litera, Lombok Pos, Rakyat Sultra, Haluan Padang, Merapi Pembaruan, Padang Ekspres, Banjarmasin Post, Suara NTB, Medan Bisnis, dan lainnya.