“Kau ini hidup di zaman apa sih?”
“Ito? Kau tidak paham?” dia menatap bola mataku seakan menelanjangi sampai ke bagian terdalam. “Itu sama saja antara kau dengan abangmu, si Gonggom itu,” jelasnya, menyebutkan nama abang kandungku yang paling tua.
“Tapi ‘kan beda.”
“Apanya yang beda?”
“Dia Sirait, aku Manurung.”
“Itu sama saja. Serumpun. Bersaudara. Kakak-adik. Aduh, kau ini bagaimana sih?”
“Kau tak bisa membacan,ya? Hurufnya saja beda. Nih, kubantu mengeja: S-I-R-A-I-T. M-A-N-U-R-U-N-G. Jauh bedanya. Jauh.” aku terus saja membantah Mura.
“Inikah lelaki itu?” Mura memperlihatkan sesuatu di layar handphone-nya.
Jantungku berdebar tak percaya. Foto Mangara, kekasihku itu ada pada Mura. Bagaimana jalannya?
Kuingat semua yang telah berlalu. Tentang kami mengajukan proposal ke kantornya. Tentang kami bertiga pernah satu mobil, Mangara mengantarku lebih dulu dan Mura terakhir. Tentang malam ketika Mura mabuk serta menangis karena ditolak cintanya oleh laki-laki yang tidak kutahu siapa. Lalu, dia meneleponku hari ini, memberitahukan sebuah alamat, menjelaskan tentang ikan, memperlihatkanku bagaimana cara menikmati ikan dan aku terjebak dalam nyinyirannya karena Mangara masih serumpun marga denganku?
“Berikan dia padaku. Aku bisa membuat dia jatuh cinta,” Mura berbicara seperti api, lalu pergi tanpa peduli pada apa yang terbakar dengan perasaanku, tanpa membiarkanku menjelaskan bahwa benar kalau Mangara sudah empat bulan ini tak lagi menemuiku.