Akuarium Hati

“Tapi sebelum menikmati telur dan yang lainnya, kau harus lebih dulu melahap bagian kepala,” Mura makin nyinyir. Kulihat dia mencubit bibir ikan. Jari-jarinya menguning dibuat sambal kemiri. Dia lalu menggigit leher, tengkuk, rahang, pipi, mungkin hidung atau telinga. Dua mata ikan dia hisap, aku jijik menyaksikan sesuatu yang pecah dan lumer.

“Kenapa menonton saja? Ayo, makan ikanmu. Kau tahu, kepala adalah segala dari ikan. Ada banyak rasa yang tak akan kautemui di bagian mana pun di ikan,” cecarnya. Kurasakan dia sudah seperti orang mabuk saja.

“Aku lebih senang memberikan kepalanya ke kucing.”

Dia tertawa sambil merapatkan mulut. Kakinya bergoyang di bawah meja.

Nih,” kataku. Aku mencampakkan kepala ikan milikku ke piring Mura, “kau suka kepalanya ‘kan? Meong, meong,” desisku, menirukan suara kucing.

“Jadi, pacarmu lelaki itu, ya?” Mura menanyakan hal yang sudah dia ketahui sejak lama.

“Bukan membicarakan itu kita ke sini.”

“Lalu, kau boru (marga) apa?” Mura semakin mendikteku.

Boru nila kek, boru lele kek, boru mujahir kek, bukan urusanmu,” aku menamai ikan-ikan karena tak suka ditanyai. Untuk apa juga dia mengurusi urusan pribadiku, sedang dia mengundangku karena ada sesuatu yang katanya ingin dibicarakan.

“Kau itu boru (marga) Manurung. Tidak boleh pacaran dengan lelaki itu.”

“Memangnya kenapa?

“Dia itu ito-mu. Kau ito-nya. I-to. Kau tidak tahu juga artinya?”

Arsip Cerpen di Indonesia