Aku kembali ke lemon yang hangatnya sudah berkurang. Kusingkirkan sendok dan sedotan. Kutenggak seluruhnya berharap pikiranku cepat tenang. Ketika nanti Mura berkata-kata meski itu kepentingannya, aku berharap juga menemukan pencerahan terhadap masalahku. Sebab sebenarnya, ada hal yang membuatku gundah belakangan ini.
Begini sedikit perkenalanku dengan Mura. Ada kegiatan pemuda-pemudi Batak setingkat provinsi yang digagas oleh kampusku. Aku, tiga orang temanku dan juga abang seniorku yang kini menjadi kekasihku pergi ke perusahaan-perusahaan menggalang dana. Kami masuk dengan segan ke sebuah kantor megah, dingin dan wangi. Mura bagian keuangannya. Aku bendahara dalam kegiatan itu, yang entah mengapa dijadikan pengurus sementara aku tidak terlalu suka kegiatan-kegiatan semacam itu. Saat itu Mura menyuruhku agar menganggapnya sebagai teman seumuran meski kenyataan dia tua lima tahun dariku. Dia bilang jangan panggil kakak apalagi ibu. Mana tahu kawanmu ada yang naksir, jadi batal, katanya, mengakhiri pembicaraan lalu kami pergi dengan bahagia sebab dia memberi kami uang makan siang. Sekarang, aku jadi memikirkan semua kata-katanya yang dulu itu. Jangan-jangan, pikirku, mulai menebak sesuatu yang sama sekali tidak kusukai.
Na tinombur pesanan kami sudah tersaji. Perempuan yang kupanggil ibu tetapi Mura memprotesku menyerahkan bagian kami masing-masing. Mura pesan nila jantan, aku pesan nila betina.
“Wanginya jeruk purut,” aku memuji sambil memeras potongan jeruk ke ikan bakar yang aroma sambalnya memacu gairah makanku.
“Utte jungga, bukan jeruk purut.”
“Sama saja nampaknya.”
“Bedalah. Masa kau tak tahu.”
Mataku menusuk mata Mura. Bila dia paham, itu bisa lebih tajam dibanding garpu di di tanganku. Sudah dua kali dia mengatakan kalimat: masa kau tak tahu. Dia pikir dia siapa? Beda atau tidak, rasanya tetap sama. Yaitu: asam. Asam! Mengerti?
Mura mengambil air pencuci tangan. Jemarinya dibilas. Agaknya dia tahu kalau aku kesal. Kutatap angin kosong. Pikiranku gelisah. Air gemericik. Mata kami langsung ke kolam yang mengitari keliling bangunan. Di depan kami dua ikan nila kejar-kejaran. Di sudut sana ada seekor ikan diam saja. Pipiku diterkam air ketika ikan yang berdiam di pojok menabrak dua ekor ikan yang saling berkejaran.