Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni

Kondisi taman saat itu seperti biasanya, selalu sepi di hari kerja. Hanya beberapa orang yang numpang lewat dan satu penjual kopi keliling—yang ngetem di sudut taman. Oh iya, tentang Tuan Trout, awalnya saya kaget bukan main dan menganggap ia hanya halusinasi saja. Namun setelah saya mengucek mata beberapa kali barulah saya sadar bahwa itu bukan hanyalan. Tuan Trout yang kehadirannya diketahui oleh saya pun langsung mendekat sembari memberi tanda agar saya diam dengan telunjuk yang didekatkan ke bibirnya. Gerak geriknya mencurigakan sekali, ia beberapa kali menoleh untuk memastikan bahwa hanya saya yang melihatnya. Dan setelah memastikan hal tersebut barulah ia duduk di sebelah saya. Ia memperkenalkan diri dengan bahasa asing—meskipun beberapa kata awal terdengar seperti bahasa inggris tapi kata-kata selanjutnya belum pernah saya dengar sama sekali—saya membalas sebisanya dengan bahasa Inggris dan mengatakan bahwa saya tidak terlalu mahir bahasa asing dan hanya menguasai bahasa Inggris sekelebat saja. Setelahnya beliau melepas semacam headset nirkabel dari telinga kirinya dan menyuruh saya memakainya seperti ia memakai benda itu di telinga kanannya. Saya menurut dan memakainya. Setelah itu ia kembali bicara dan saya dibuat takjub bukan main dengan benda itu. Hal inilah yang membuat saya yakin akan asumsi awal saya, bahwa Tuan Trout ini adalah seorang dari masa depan.

Tentang Tuan Trout, ia adalah laki-laki dengan kisaran usia 30 sampai 40, saya tidak tahu pastinya. Ia mengaku bahwa ia adalah ilmuan amatir asal Inggris yang datang dari tahun 2108—atau 90 tahun kedepan. Perjalanannya ke tempat ini adalah ujicobanya yang berhasil dari puluhan percobaan awal yang selalu gagal. Ia senang betul. Alasan sampai di tempat ini juga katanya murni uji coba, ia memilih waktu dan tempat secara serampangan.

Setelah duapuluh menit ngobrol, ia mengatakan akan kembali ke masa depan dan meminta saya untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang alat temuannnya itu agar tidak terjadi kekacauan di masa depan. Saya bilang bahwa saya tidak akan memberitahu siapa pun asal ia mau memenuhi permintaan saya. Ia menanyakan apa permintaan saya, saya meminta agar ia membawa saya ke masa depan dan mengajak saya berkeliling selama satu jam. Ia diam beberapa jenak, lalu menyetujuinya dengan satu syarat. Katanya saya harus menuruti apa yang ia katakan dan hanya satu jam saja, tidak lebih. Saya setuju. Lalu ia mulai menunjukan mesin waktu miliknya—yang terlihat seperti tas piano—dan mulai menunjukan cara kerjanya.

Dalam sekejap saya sudah melesat ke masa depan, tepatnya di rumah Tuan Trout pada tahun 2108. Saya takjub bukan main, benda-benda yang dulu hanya ada di dalam film fiksi ilmiah kini saya saksikan langsung dengan mata kepala saya—komputer hologram yang keluar dari kotak kecil, robot pembersih yang berbicara dan masih banyak lagi. Saya sebetulnya tidak sabar untuk keluar berkeliling dan melihat akan seperti apa masa depan, tapi hal itu tidak jadi saya lakukan. Penyebabnya adalah ketika saya berkeliling kamar beliau—saya pikir ada sesuatu yang ganjil di kamar seorang ilmuan ini, meskipun banyak sekali piranti-piranti garib khas ilmuan saya tidak melihat sebiji pun buku. Saya pun menanyakannya, mengapa seorang ilmuan sepertinya tidak mengoleksi buku. Tuan Trout menjawab iya, namun semua buku koleksinya hanya terdapat di komputer dalam bentuk digital dan sudah langka sekali buku yang terbuat dari bubur kayu seperti milik saya yang ia lihat di taman. Saya juga menanyakan apakah sastra masih ada ditahun ini. Ia menjawab tidak tahu, ia juga menambahkan bahwa sudah lama sekali tidak membaca sastra dan mengikuti perkembangannya. Meskipun begitu, hal yang membuatnya terpengaruh untuk membuat mesin waktu adalah karena kebiasaan membaca karya sastra ilmiah sewaktu kecil, katanya.

Arsip Cerpen di Indonesia