Cerita Dodit
Mendiang Joni, penulis hebat itu adalah kawan karib saya sejak bangku kuliah dulu. Kami adalah lulusan Sastra Indonesia dari almamater yang sama. Dulu sekali, ia mengaku bahwa ia tidak bisa menulis sastra, baik prosa maupun puisi, meskipun begitu ia adalah seorang pembaca sastra yang tekun. Koleksi buku sastranya banyak betul, bahkan ia sering sekali merekomendasikan bacaan untuk saya. Pernah saya menanyakan hal tersebut kepadanya, tentu dengan modal bacaan yang mumpuni ia bisa saja menelurkan karya sastra yang bagus, tapi ia selalu menjawab bahwa ia tidak memiliki bakat mengarang maupun bersajak. Ia pernah mencoba untuk menulis tapi hasilnya selalu saja menjadi draft dan tidak pernah selesai. Saya pernah memberinya saran agar ia lebih dulu berhenti membaca dan mulai menulis, saya beranggapan bahwa ia terlalu banyak membaca karya bagus sehingga terbebani dengan hasil bacaan yang membuatnya tidak mampu menyelesaikan tulisannya. Saya juga sering memberinya buku kiat-kiat menulis, tapi ia malah menyangkal bahwa ia memang tidak punya bakat, ia menambahkan bahwa menulis itu adalah masalah bakat dan bukan perkara main-main.
Saya ingat, ia pernah berkata begini, “Semua orang tentu bisa menulis, tapi hanya sedikit orang dengan bakat menulis yang bagus. Maka itu lebih banyak buku jelek ketimbang buku yang bagus di toko buku.” Dari situ saya menyerah untuk menyuruhnya menulis, ia betul-betul keras kepala. Tapi kalian tahu sendiri bukan, bagaimana takdir dari mendiang kawan saya itu.
Rahasia Penulis Joni
Kau tahu, satu jam di masa depan tidak saya habiskan dengan berjalan-jalan, saya hanya duduk di depan komputer milik Tuan Trout tanpa beranjak sedikitpun. Lewat komputer itu, saya mencari tahu siapa saja pemenang Nobel Sastra di masa depan, membaca sekilas karya sastra masa depan, bahkan saya juga turut mencari tahu masa depan saya (asal kau tahu, mesin pencari di masa depan memang betulan canggih! Kau hanya cukup mengetik identitasmu atau hal yang ingin kau cari dan semua informasi akan muncul.) Saya bahkan tahu kapan saya akan mati, siapa nama istri saya, akan ada peristiwa apa kedepan dan masih banyak lagi. Salah satunya adalah, pada 22 Desember 2019 dini hari, seseorang akan melakukan perampokan di rumah saya saat kedua orang tua saya pergi. Saya yang ada di rumah bahkan tidak menyadari hal itu, tapi aksinya itu dilihat oleh tetangga saya saat ia hendak kabur dengan kendaraannya, lalu perampok itu menembak tetangga saya yang memergokinya. Dua hari berselang ia akan tertangkap. Gila bukan.