Oh iya, sebelum saya anteng di depan layar komputer Tuan Trout ini, saya lebih dulu ia berikan kacamata canggih dari masanya yang mampu menerjemahkan pelbagai bahasa asing ke bahasa ibu penggunanya.
Sebetulnya Tuan Trout tidak menyarankan saya untuk mencari tahu berbagai hal yang akan terjadi di masa depan, selain dapat menimbulkan kerusakan di masa depan hal itu juga diyakini dapat memengaruhi hidup saya kedepan. Tapi saya menyakinkannya bahwa saya ini bukanlah siapa-siapa di semesta yang luas ini dan tentu saja tidak akan menimbulkan kerusakan apa pun bagi masa depan, malah ia sendirilah yang dapat merusak masa depan dengan mesin waktu miliknya itu. Ia diam setelahnya, lalu membiarkan saya menanggung risikionya sendiri, lagipula apa yang saya katakan itu memang benar, yang dapat mengubah dan mengganti masa depan tentu saja orang yang mempunyai mesin waktu, dan bukan saya.
Cerita Dodit
Malam itu, lebih tepatnya sehari sebelum pengumuman pemenang sayembara Novel Nasional, Mendiang Joni menghubungi saya.Ia mengatakan bahwa karyanya lolos tiga besar. Saya kaget bukan main, pasalnya saya kenal betul kawan saya itu, ia bukan hanya tidak bisa menulis, ia bahkan sudah mengutuk dirinya tidak memiliki bakat menulis.
Awalnya saya menggangap itu hanya bahan candaan untuk saya karena naskah saya gugur setelah masuk sepuluh besar. Tapi ia mengirimi saya screenshot surat elektronik yang ditujukan padanya dari panitia sayembara. Saya baru yakin bahwa ia tidak sedang membual dan saya mulai memberodong berbagai umpatan padanya. Saya jengkel betul, selain naskah saya kalah, sayalah yang sejak lama menyuruhnya untuk menulis dan selalu ia tolak dengan berbagai argumen sok keren. Ia mengatakan bahwa besok pagi ia harus pergi menyusul Ibunya yang pulang kampung. Malam itu juga ia mengirimi saya naskah-naskah yang selama ini ia kerjakan untuk saya baca, termasuk naskahnya yang lolos tiga besar itu, dan bisa saya rekomendasikan untuk diterbitkan di beberapa penerbit kenalan saya.
Rahasia Penulis Joni
Oh iya, sejak membaca sastra dan masuk jurusan sastra saya memang punya ambisi untuk menulis sastra, saya ingat betul kata seorang maestro sastra yang mengatakan bahwa banyak orang yang hilang dari sejarah dan terlupakan karena tidak menulis sastra, itu betul-betul jadi motivasi bagi saya. Sialnya, saya ini tidak dilahirkan dengan bakat menulis yang bagus, saya tidak pernah bisa menulis sampai tuntas dan selalu berhenti di tengah jalan.