Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni

Kawan karib saya semasa kuliah sampai dengan sekarang, Dodit namanya, sering sekali menyuruh saya menulis dan memberikan macam-macam kiat menulis.Ia adalah orang yang meyakini bahwa karya saya pasti akan bagus. Tapi ekspektasinya kelewat tinggi, saya memang mampu menghabisakan banyak buku, tapi untuk menghasilkan tulisan, itu cerita lain. Sulit betul.

***

Setelah setengah jam di masa depan dan menjajal pelbagai teknologinya, saya mulai memikirkan rencana yang bisa dikatakan gila, sebetulnya ide ini awalnya hanyalah pikiran liar saja, tapi setelah saya pikirkan dengan masak dan ketimbang saya tidak menjadi apa-apa setelah saya mati, sepertinya hal gila ini memang harus saya kerjakan. Apalagi dari pencarian yang saya lakukan lewat mesin pencari Tuan Trout ini, saya mengetahui bahwa saya tidak akan melahirkan buku apa pun seumur hidup saya, bahkan saya akan mati tertabrak mobil pada umur 40 tahun. Itu kelewat mengerikan.

Oh iya, hal gila yang saya maksud itu adalah mengambil karya-karya dari pemenang Nobel Sastra masa depan untuk saya plagiasi. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya mengambil tiga novel saja dari seorang pengarang bernama Billy Pilgrim, tepatnya pemenang Nobel sastra di tahun 2089. Untungnya format buku digital ini dapat saya ubah ke format lama agar dapat dibuka lewat komputer saya, memang teknologi masa depan itu betulan canggih!

Awalnya saya kerepotan untuk menyimpannya di mana, untungnya gawai saya—yang bisa dikatakan jadul untuk zaman Tuan Trout—bisa dijadikan tempat penyimpanan. Ngomong-ngomong, hal ini tentu tidak diketahui Tuan Trout, ia bisa curiga pada saya.

Masalah selanjutnya adalah bahasa dalam buku yang saya bawa ini, meskipun menggunakan bahasa Inggris tapi banyak bahasa Inggris di masa depan yang tidak saya ketahui. Apalagi Tuan Trout menolak saat saya meminta kacamata canggihnya untuk oleh-oleh. Sia-sia saja rencana saya, kata saya dalam hati.

Tapi saya ini memang bernasib baik, kau ingat headset nirkabel yang diberikan oleh Tuan Trout kepada saya? Nah, ia lupa memintanya kembali saat mengembalikan saya ke masa lalu. Dan dengan bantuan alat inilah saya mampu mengalih-bahasakannya tulisan ini ke dalam bahasa saya.

Cerita Dodit

Mendiang Joni, kawan saya, meninggal pada 22 Desember 2019 dini hari—dua tahun lalu. Ia tewas karena seorang perampok yang menjarah barang-barang di rumahnya menembakan timah panas ke arahnya. Meskipun perampok itu sudah tertangkap dan dihukum, pengakuan dari perampok yang membunuhnya itu membuat saya kesal, mana ada orang yang ingin mati setelah ia tahu hari esok akan mengubah nasibnya?

Arsip Cerpen di Indonesia