Dirimu dilumuri praduga, dibasahi cemas jika laki-laki brengsek yang sudah meninggalkan memar-memar di sekujur tubuhmu itu tiba-tiba menyelinap, dia belum bahagia jika belum melihatmu kehabisan napas. Namun kau tak melihat siapa pun. Kau menarik napas lega. Saat itulah, gelas yang hendak kau letakkan di atas meja ternyata meleset. Jatuh menghantam lantai dan pecah berkeping-keping, salah satu bagian melanting dan menancap di kulit kakimu. Kau meringis saat mencabutnya. Kemudian kau menyeret langkah dan membiarkan darah berceceran di lantai, seperti penanda agar kau tak tersesat.
Ketika kau sibuk mengelap darah yang mengucur dari kaki, ponselmu berdering. Dadamu bergemuruh. Siapa yang menelepon di pukul tiga dinihari? Kau menjangkau ponsel. Sebuah nama tertera. Adik laki-lakimu yang beruntung. Dia yang jauh lebih beruntung darimu. Kemudahan hidup. Ketenaran. Kekayaan. Kebahagiaan. Semua hal yang kau impikan justru dia yang memilikinya. Kau selalu iri padanya. Kau selalu kesal. Namun kau tak pernah bisa mengatakannya.
“Ya,” kau menjawab dengan suara berat, berpura-pura baru saja terjaga dari tidur lantaran dering telepon yang mengganggu.
“Hei,” suaranya renyah, seperti biasa. “Jangan bilang aku mengusik tidur kerbaumu.”
“Itu kau tahu.”
Tawanya berderai, “Datanglah kemari. Aku butuh teman minum. Kau tahu? Aku ingin merayakan sesuatu denganmu.”
“Kau mendapatkan peran itu?” dadaku terasa perih saat menanyakannya.
“Tak perlu kujawab, kan?”
“Rayakan saja sendiri. Aku sangat mengantuk dan tak ingin mengemudi saat ini. Kau tahu, besok aku akan sangat sibuk di kantor.”
“Oh ayolah… sesekali kau harus membiarkan bos mengerikanmu itu panik dan merasakan betapa berharganya dirimu.”