Lalu obrolan itu bergulir seperti bola salju, membentuk lingkaran pertemanan yang kau harapkan. Kalian begitu dekat. Sangat dekat. Setiap petang, di lapangan yang lengang, kau akan menemaninya latihan drama, dia memerankan Romeo dan kau dipaksanya menjadi Juliet.
“Kita perlu totalitas,” ujarmu. “Totalitas.” Dan dia gemetar saat kau memagut bibirnya. Sepersekian detik dia terbelalak. Juga kau. Dia terkejut atas keberanianmu. Dan kau terkejut atas letupan dalam dadamu. Namun ciuman kedua dan lumatan yang panjang itu datang darinya. Kalian tenggelam, mencampakan teks drama dan melupakan betapa hidup jauh lebih kejam daripada mimpi dan harapan.
“Jangan pernah berharap jauh,” ujarnya dan kau paham, setiap orang memang boleh bermimpi di dunia ini, kecuali orang-orang seperti kalian. Kau dan dia tahu, tapi terkadang perasaan tak pernah ingin tahu. Waktu yang gegas berlari dan dunia yang semakin hari semakin dipenuhi impian dan keinginan, kalian bergumul dan terombang-ambing di antara bagian-bagian itu. Seperti buih. Timbul-tenggelam dan seolah kehabisan napas.
“Aku lelah,” ujarnya. “Aku lelah berpura-pura bahagia. Aku lelah berpura-pura menjadi orang lain. Aku lelah berbohong. Sekali saja, aku ingin jujur dan bahagia. Sekali saja.”
Dan kau tak bisa menjawab sepatah kata pun. Kau dan dia sama. Kalian lelah, tapi dunia tak pernah memberi kalian ruang.
“Bertahanlah. Tak usah menuntut lebih. Sederhanakan definisi bahagiamu, sepertiku. Bahagiaku bila terus bisa menjadi temanmu, tak pernah lebih.” Dan di hari-hari terakhirnya pun kau terus saja memaksanya berdusta. Bahkan ketika abu jenazahnya ditebar, kau masih ingin menipu dirimu sendiri; ini hanya mimpi buruk. Ini hanyalah satu episode dari drama yang dia bintangi. Kau tahu dirimu lelah, tapi kau tak ingin mengakuinya.