TEMAN DEKAT
JATUH cinta pada pandangan pertama. Hei, tidakkah itu terdengar picisan? Tapi itulah yang kau rasakan. Kau menyukainya saat pertama kali kalian bertemu di bangku kelas sebelas. Dia duduk di pinggir lapangan bola kaki, menyaksikan anak-anak kelas sepuluh yang berebutan benda bundar itu di tengah terik matahari bulan Agustus. Lalu kau duduk di dekatnya, jarak kalian hanya sehasta. Dia menoleh. Kau tidak balas menengok. Matamu menatap lurus ke tengah lapangan bola. Kau tahu dia tengah menatapmu.
“Kenapa setiap hari kau hanya memandang orang-orang yang berebut bola di lapangan ini? Kenapa kau tak pernah bergabung?” kau bertanya sembari membuka minuman kaleng, menenggak isinya dan meletakkannya di antara kalian berdua.
“Aku tak pandai bermain bola,” dia menjawab dengan suara yang renyah. Dari ekor matamu, kau bisa menyaksikan jika dia pun memandang lurus ke tengah lapangan.
“Tak pandai atau tak ingin kulit halusmu terbakar matahari?”
“Hei!” suaranya meninggi.
“Aku hanya bertanya, tak usah marah,” kau menjangkau kembali minuman kalengmu dan menandaskan isinya. Dia tak menyahut. Dalam beberapa puluh detik kemudian, kalian kehilangan topik obrolan. Kau ingin merutuki kesalahan yang telah kau perbuat. Di lapangan, siswa kelas sepuluh terus berebut bola yang menggelinding liar ke sana ke mari.
“Walau sebenarnya aku berharap melihatmu bermain bola, tapi aku selalu lebih suka melihatmu di klub drama,” ujarmu.
Dia menoleh, matanya berbinar. “Apa kau sering menonton kami latihan?”
“Kurasa peran Romeo itu akan kau dapatkan,” dadamu hampir meledak.
“Ah, tidak. Kurasa Lee akan mendapatkannya.”
“Kau sering tak menyadari bakatmu sendiri.”