Mati

“Akan kutemani kau minum besok, aku sangat mengantuk.” Kau pura-pura menguap dan mendengkur halus, membiarkan sambungan tetap terhubung. Kau berharap adikmu memutuskan sendiri telepon itu.

Terdengar helaan napasnya. “Kau benar-benar sudah tidur?” dia bertanya dengan nada suara yang tiba-tiba berubah. “Apa kau masih mendengarku?” kau terus pura-pura mendengkur.

“Padahal aku ingin ditemani minum. Aku ingin bercerita banyak padamu. Betapa aku lelah dengan hidup ini. Betapa aku ingin mengakhiri semua kepalsuan ini,” suaranya melemah, kau berdebar. “Kau tahu? Aku selalu iri padamu. Dari dulu. Kau bebas memilih menjadi apa pun yang kau mau. Tak pernah harus menjadi orang lain demi kebahagiaan orang lain.”

Telepon terputus dan kau membatu.

Apakah tidak terbalik? Bisik hatimu. Seharusnya aku yang iri padamu? Lihatlah! Tak pernah benar-benar ada yang menginginkanku. Tak ada siapa pun. Tidak ibu. Tidak laki-laki yang kuharap akan membuatku bahagia, tapi ternyata dia justru membuatku semakin menderita. Bahkan tidak diriku sendiri. Oh, ini menggelikan! Bahkan aku pun tidak mengharapkan diriku. Jadi, bagian mana yang membuatmu iri padaku? Kau tengah berdusta. Mencoba menghibur atau justru mengejek kemalangan hidupku.

Hatimu terus meracau di tempat tidur sampai pagi menyingsing di balik gorden jendela apartemen, sesekali kau tertawa. Menertawakan lelucon yang dilempar olehnya-kau terus menganggap racauan di telepon itu lelucon garing. Namun kini, kau menyadari itu bukan sebuah joke. Kau memandang tubuh kakunya yang membiru di lantai, asap briket yang meliuk-liuk seperti tarian dewi kematian, tanganmu gemetar saat menelepon 911. Lalu kau menangis. Bukan! Ini bukan ratapan atas kematiannya, tapi tangisan iri atas keberaniannya. Di saat seperti ini, kau masih saja iri padanya. Iri atas keberanian mengambil keputusan atas hidupnya. Tak sepertimu yang penakut dan rela hidup dalam kesengsaraan. Kau semakin iri padanya, dia selalu mendapatkan apa yang dia mau.

Arsip Cerpen di Indonesia