Mati

IBU

“BILA aku berhenti, lalu pergi dan hidup menjadi orang biasa, apakah kau tidak marah dan kecewa padaku?”

“Apa yang kau bicarakan?” kau memandangnya tajam.

“Aku hanya lelah. Aku ingin hidup bahagia seperti orang lain.”

“Dan ribuan orang di luar sana ingin hidup sepertimu.”

“Ma,” dia memandangmu dengan tatapan kanak-kanak yang terekam di memorimu, pandangan anak laki-laki manis yang tak ingin pergi les tapi ingin bermain video game.

“Aku tak pernah melarangmu berteman dengan siapa pun. Silakan. Kau tahu siapa dirimu. Batasanmu. Tapi jangan bersikap konyol.”

Percakapan itu terus terulang dalam tempurung kepalamu, seperti tayangan yang selalu diputar kembali setelah usai. Mengejar penyesalanmu yang tentu saja terlambat. Bila saja kau disuruh memilih sekarang; tetap melihatnya bernapas dan kehilangan semua kebanggaan ini atau melihatnya terbujur kaku dengan tubuh membiru di kamar jenazah tapi tetap melahirkan rasa iri di dada seluruh ibu negeri ini. Kau tentu saja akan memilih yang pertama. Namun semua sudah usai. Tak ada putaran ulang.

“Aku hanya lelah dan ingin beristirahat. Kumohon jangan menangis dan menyalahkan dirimu.” Pesan suara terakhirnya yang dia kirim untukmu.

Hanya itu. Tak ada luapan kemarahan. Caci maki. Penghakiman. Dia anak laki-lakimu yang manis. Dia tetap menjadi anak kebanggaanmu. Dia tidak marah. Tidak menyalahkanmu atas segalanya. Namun justru kalimat itu akan menghantui malam-malam selama sisa hidupmu. Kau baru menyadari, betapa menyedihkannya hidupmu, bukan hidupnya.

 

Pali, 2017-2018.

Guntur Alam, buku kumpulan cerpen gotiknya Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Gramedia Pustaka Utama, 2015. Saat ini menetap di Pali.

Arsip Cerpen di Indonesia