Paris, Saat Cinta Datang dan Pergi

Zaini tersenyum. Memang dia sengaja memasang lukisan Anggun pelantun tembang “La Neige au Sahara” itu pada bagian yang menjadi pusat perhatian pengunjung. Sudah puluhan kali Zaini melukisnya bahkan sampai lupa jumlahnya dan semuanya terjual lumayan mahal untuk sebuah lukisan yang dibuat seniman jalanan. Sebenarnya pelukis lain ada yang menjualnya, tetapi entahlah mungkin karena Zaini pelukis dari negara asalnya Anggun, lukisannya menjadi lebih diminati. Bahkan pernah ada seorang perempuan bule asal Spanyol dengan potongan rambut model crew cut, penggemar Anggun. Ia minta dilukis seakan-akan bersama Anggun bergandengan tangan dengan latar belakang menara Eiffel, Cathedral Notre Dame dan sungai Seine yang mengalir beriak-riak keemasan. Tetapi kalau boleh jujur sebenarnya dalam hati Zaini sedih, karena orang banyak memuji lukisannya bukan karena coretan tangannya yang bernilai seni melainkan karena faktor Anggun sendiri yang sangat terkenal di Prancis, bahkan sudah mendunia.

“Ya sudahlah. Mungkin Anggun C. Casmi bagian dari rezekiku,” hibur Zaini dalam hati.

/4//

NAMUN kali ini saat matahari pagi masih di timur menara Eiffel, saat jalanan pun masih dibasahi embun, kakek Marius pelukis senior di tepian sungai Seine malah memuji lukisan-lukisan Zaini.

“Zaini, saya memiliki cucu seorang gadis yang masih muda. Mungkin seusia kamu. Jewelia Marjolaine namanya. Malam nanti ia akan berulang tahun yang ke dua puluh lima. Aku ingin memberikan hadiah untuknya. Sudah belasan kali aku memberikan kado lukisan untuknya. Kau tahu apa komentarnya?”

Zaini menggeleng. “Je ne sais pas.” Tidak tahu jawab Zaini.

“Jewelia menginginkan lukisan yang berbeda. Unik seperti lukisan Pablo Picasso,” ungkap kakek Marius.

“Tolonglah, saya akan mengajak Jewelia di tepian sungai Seine ini sore nanti! Bidiklah seperti inginmu! Lukislah dengan caramu itu!” pinta kakek Marius.

Arsip Cerpen di Indonesia