“Untuk kakek Marius lukisan tersebut aku gratiskan,” pungkas Zaini.
Kakek Marius sebenarnya tak enak hati, namun berkali-kali Zaini menolak pembayaran lukisan tersebut. Akhirnya kakek Marius menyerah. Dimasukkan kembali uang tersebut ke dalam sakunya.
/6//
MALAM harinya tepat tanggal 21 Oktober, kakek Marius mengajak Jewelia makan malam di sebuah restoran apung di atas sungai Seine. Restoran kapal yang menyajikan menu Prancis. Kakek Marius mempersembahkan sebuah kado untuk cucu tercintanya, Jewelia Marjolaine. Sudah bisa ditebak. Seperti biasa, Jewelia membukanya dengan perasaan yang sama bila mendapatkan kado pada tahun-tahun yang lalu. Kakeknya tersenyum-senyum.
“Kakek tahu kamu bosan mendapatkan kado seperti ini. Tapi coba lihatlah!” pinta kakek Marius.
Betapa terkejutnya Jewelia Marjolaine. Sebuah lukisan kubisme yang menampilkan dia dan kakeknya yang duduk pada sebuah bangku dalam latar belakang sungai Seine, jembatan Pont des Art dan menara Eiffel dalam pesona sunset.
“Bukankah lukisan ini adalah saat sore tadi kakek mengajakku di tepian sungai Seine?” Jewelia masih dalam pesona lukisan itu.
“Bon anniversaire, Jewelia Marjolaine.” Selamat ulang tahun ucap kakeknya.
Seulas senyum tersungging di bibir Jewelia. Manis sekali. Dipeluk kakeknya dengan kebahagiaan yang meluap-luap.
“Je vous aimez.” Aku cinta kakek katanya.
“Kapan kakek melukisnya? Mana mungkin secepat ini!”
Marius tesenyum. “Teman kakek yang melukisnya. Anak muda dari Indonesia.” Jawab kakek Marius.
“Indonesia? O la la, Anggun.” Pekik Jewelia. “Siapa namanya?”
“Zaini.” Jawab kakek Marius.