Paris, Saat Cinta Datang dan Pergi

Sampai di tepian tubuh Jewelia lemas. Terlalu banyak air masuk ke dalam lambungnya.  Zaini mencoba mengeluarkan air tersebut dengan berbagai cara. Dengan ambulance yang kemudian tiba di tepian sungai Seine, dibawanya Jewelia dan korban lain ke Aesthetica Laser Center Paris Peraire. Di rumah sakit, dalam dekapan Zaini nyawa Jewelia Marjolaine tak tertolong. Zaini terkulai pingsan.

Ketika sadar, Zaini bergegas ke rumah Jewelia. Sepanjang perjalanan air matanya tak henti-henti mengalir. Sampai di rumah duka Zaini gemetar, sebuah foto bergambar Jewelia Marjolaine sudah berdiri tak tegak di atas peti mati. Diiringkan banyak orang Jewelia diantar ke pemakaman. Kakek Marius dan David menabah-nabahkan hati Zaini.

/9//

SEMINGGU kemudian banyak peziarah melihat-lihat sebuah pusara yang dihiasi sebuah lukisan kubisme perempuan yang sangat cantik. Di antara lukisan itu tertulis nama yang sangat indah: Jewelia Marjolaine.

Di tepian sungai Seine, Zaini terlihat memasukkan alat-alat lukisnya ke dalam sebuah tas besar. David dan kakek Marius menitik kesedihan. Zaini bertekad kembali ke Indonesia. Ia tak bisa melukis lagi keindahan kota Paris. Setiap kali melihat sungai Seine ia teringat Jewelia Marjolaine, setiap kali itu pula saat ia mencoretkan kuasnya di atas kanvas, air matanya jatuh menimpa lukisannya. Pengunjung pun marah dan tak mau membayar lukisannya.

Tak ada lagi Paris di hati Zaini. Runtuh sudah kemegahan menara Eiffel yang puncaknya seakan menyentuh awan itu. Dari puing-puing jembatan Pont des Art yang sudah runtuh, Zaini berdiri menatap ke aliran sungai Seine. Jewelia Marjolaine seakan timbul tenggelam di sungai itu. Tak terasa air matanya jatuh menimpa riak-riaknya.

Zaini berkata dalam hati, “Paris, hari ini aku meninggalkanmu.” (***)

Arsip Cerpen di Indonesia