Paris, Saat Cinta Datang dan Pergi

/5//

SORE harinya, kakek Marius mengajak Jewelia duduk di bangku di tepian sungai Seine. Kakeknya Marius tanpa sepengetahuan Jewelia bergaya seakan mengajaknya bercakap-cakap.

“Sebuah konspirasi untuk sebuah seni,” pikir Zaini. Menarik sekali.

Zaini sudah bersiap dengan peralatan lukisnya. Selembar kanvas sudah kuletakkan di papan easel. Untuk menutupi konspirasi ini, sengaja Zaini memanfaatkan David untuk menjadi objek lukisannya.

Paris, di tepian Sungai Seine ramai sekali bila musim semi datang. Turis dan pelancong dari belahan dunia seakan tiada henti-hentinya. Sesekali mereka melirik Zaini yang tengah melukis. Akan tetapi mereka keheranan karena objek lukisan dengan coretan kuas di kanvas sungguh berlainan. Turis-turis itu pun pergi dengan pertanyaan dalam hatinya yang tentu saja tak mendapatkan jawaban. David cekikakan. Tetapi Zaini tidak peduli. Konsentrasinya sedang tertuju pada dua objek yang sesungguhnya, kakek dan cucunya yang tengah bercakap-cakap, sesekali mereka berdua bersenda gurau. Sebuah keindahan yang sangat natural sekali.

Zaini larut dalam guratan lukisannya. Tangannya sungguh terampil mencorat-coret, kerling matanya tajam menatap kakek Marius dan Jewelia Marjolaine lalu berpindah ke permukaan kanvas. Benda-benda kubisme dirajahnya menjadi dua manusia yang saling menyayangi, kakek dan cucunya yang cantik tiada tara. Diam-diam Zaini mengagumi kecantikan Jewelia. Kini bukan hanya matanya yang menatap Jewelia Marjolaine tetapi juga hatinya mulai mengerling kepadanya.

Beberapa saat kemudian Zaini memberikan isyarat kepada kakek Marius. Itu artinya konspirasi yang bernilai seni sudah dilaksanakan dengan baik. Jewelia bangkit dari bangku meninggalkan kakeknya dengan gerak-gerik seakan memantapkan janji. David berlaku seperti orang yang baru saja dilukis. Sore itu di kota Paris, di tepian sungai Seine sebuah lukisan indah tercipta.

Zaini menyerahkan lukisannya yang sudah dibingkai. Kakek Marius merogoh sakunya untuk membayar lukisan Zaini. Akan tetapi Zaini menolaknya.

Arsip Cerpen di Indonesia