Keluarga ini memang bodoh!
Mereka sama sekali tak mengenal kakeknya sendiri. Jelas sekali kalau kakek kesayangan mereka telah mati. Tubuhnya kaku, tak lagi bisa bergerak, walau napas dan detak jantungnya masih tersisa. Tapi harusnya mereka tahu kalau itu bukan napas dan detak jantung yang seharusnya!
Aku mengenal sekali kakek mereka. Aku sudah bersamanya jauh sebelum mereka ada.
Mereka sama sekali tak tahu, kalau kakek tercintanya ini punya sejarah yang mengerikan. Walau ia berusaha mengubur masa lalunya. Tapi siapa yang bisa benar-benar mengubur masa lalu seutuhnya?
Itu bukan perkara mudah. Dulu, mencari makan bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu pengorbanan besar. Aku tahu sekali, kakek yang kala itu masih sangat muda, bukan orang yang sepenuhnya berani. Satu waktu ia memang dapat menguasai pasar itu bersama kawan-kawannya. Tapi pasar bagaikan pemikat bagi laki-laki nekad lainnya. Di situ uang mengalir tanpa henti. Tak heran bila beberapa hari sejak menguasai pasar, orang-orang mulai berusaha merebutnya.
Saat itulah, ia mulai memintaku hadir untuk bersemayam di dalam tubuhnya. Aku tentu senang ia memintaku, apalagi aku tahu bagaimana berat ikhtiarnya. Pelan-pelan aku mulai membuka titik-titik paling tersembunyi dalam dirinya. Sehingga ia dapat merasakan tanda-tanda lebih tajam tentang apa yang akan terjadi padanya. Ia akan tahu kabar buruk yang akan datang. Itulah yang selama ini membuatnya survive. Ia menjadi licin tak terkejar musuh-musuhnya—termasuk polisi—dan juga dapat dengan mudah melakukan pembalasan pada lawan-lawannya, karena mampu memilih waktu yang paling sempurna.
Seharusnya diriku saja sudah cukup baginya. Toh, aku tak pernah membayar setengah-setengah orang yang sepenuhnya percaya padaku. Tapi rupanya itu tak cukup baginya. Ia mencari lagi sesuatu yang lain, untuk disandingkan bersamaku.
Aku lebih suka menyebutnya si pengganggu. Ialah yang pada akhirnya menjerumuskannya dalam keadaan seperti ini!