Polisi juga pernah berniat menangkapnya dalam satu operasi besar. Seorang sniper sudah dalam posisi paling sempurna untuk menembak jantungnya. Tapi aku memberi tanda rasa sakit di kakinya, sehingga ia membungkuk bertepatan peluru melayang di atas kepalanya. Ia selamat lagi saat itu.
Satu lagi yang kuingat adalah tantangan duel dari bromocorah kampung sebelah. Aku tahu, ia tak menguasai ilmu bela diri apa pun. Tubuhnya hanya kuat, membuat sabetan goloknya bisa sangat cepat. Tapi lawannya adalah jawara paling mengerikan di sini, dan ia berhasrat sekali menguasai pasar ini. Aku memberinya tanda agar ia menyelipkan pisau kecil di sakunya. Dan itu ternyata yang menyelamatkan jiwanya. Saat ia jatuh terpuruk dan sesaat lagi terputus lehernya, ia mengambil pisau kecil itu dengan cepat dan menusukkan ke arah jawara yang tengah berada di atas tubuhnya. Ia menang dalam duel itu.
Kini semuanya sudah berbeda. Aku sebenarnya ingin pergi saja dari tubuhnya, agar ia dapat meninggalkan dunia ini dengan tenang. Setidaknya aku tahu, di sisi hidupnya yang kelam-pekat, ia sebenarnya laki-laki yang baik. Ia mencintai istrinya, juga sangat sayang terhadap anak dan cucunya. Kupikir, ia mau melakukan apa saja agar orang-orang di sekelilingnya bisa bahagia.
Tapi aku tak bisa pergi, bila bukan ia yang menyuruhku pergi!
Â
Selama ini, aku sudah membuat kakek tua ini kebal terhadap apa pun. Aku senang dengan itu. Bagaimanapun kakek tua ini menghadirkanku bukan dengan cara yang mudah, walau ia tahu ada beberapa cara mudah lainnya. Tapi ia memilih cara yang tersulit, dan untuk itulah ia mendapatkanku.
Tak terhitung, aku sudah menyelamatkannya berkali-kali. Beberapa kali duel, senjata-senjata musuh sudah melukainya. Sebenarnya ada satu-dua sabetan yang mampu membuatnya selesai. Tapi ia hanya terluka saja. Tak lebih dari itu.