Ular-ular Merah dalam Tubuh Kakek

“Kau harus membunuh kakekmu!” bisikku berulang, “Di dalam tubuhnya bersemayam sesuatu yang mengerikan!”

Dan si cucu hanya bisa terbangun dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Kubuat kejadian itu terjadi bekali-kali, hingga akhirnya ia memutuskan bicara pada ibunya.

“Ibu, kakek benar-benar sudah mati. Ada yang mengerikan di dalam tubuhnya.”

“Ibu tak suka kau bicara tak menentu seperti itu! Tidakkah kau lihat kakek semakin sembuh? Ia sudah bisa menggerakkan tangannya.”

“Tapi itu bukan kakek yang menggerakkannya!”

“Ibu tak mau mendengarkanmu lagi! Kau semakin kurang ajar terhadap kakekmu!”

“Ibuuuu!!!”

Aku tahu, tak akan berguna ia mengatakan apa yang diketahuinya pada ibunya. Jadi aku terus membisikkan saja padanya hal lainnya. Kali ini dengan lebih berani, kutunjukkan pada matanya sebuah belati kecil yang selama ini dibawa kakeknya.

“Itu… akan mengakhiri semuanya…” bisikku berulang.

Dan si cucu dengan langkah ragu mulai mendekati belati itu.

 

Pengecut tetaplah pengecut!

Ia rupanya mencoba mempengaruhi cucu tolol itu. Ia tak berani berhadapan langsung denganku, sehingga harus menyuruh anak kecil melakukan keinginannya. Huh, apa dia pikir tusukan belati akan mengakhiri semuanya? Tolol sekali!

Apa ia tak berpikir, kalau aku sedang menimbang-nimbang satu tubuh agar aku—dan tentunya bersama dirinya—dapat hidup abadi di sini?

Tapi ia terlalu pengecut untuk itu! Jadi aku tak akan sungkan lagi. Saat cucu tolol itu mendekat dan mengacungkan belatinya, aku menahannya. Belati itu meluncur ke tubuh kakek tua ini, tapi sama sekali tak melukai apa-apa. Gerakannya malah seperti terpental dan berbalik sendiri ke arah si cucu!

Belati itu menancap di tubuhnya.

Aku hanya menyeringai.

 

Kupikir, aku memang benar-benar telah kalah!

Aku lihat keesokan paginya, ibu menemukan anaknya dengan belati di perutnya bersama darah yang menggenang sedemikian rupa. Ia menangis histeris. Memeluk erat-erat anaknya.

Tapi tiba-tiba, si cucu menggerakkan tubuhnya dengan gerakan kaku. Si ibu tersenyum lega sambil mengusap air matanya. “Anakku, kupikir kau pergi meninggalkan ibu…”

Tapi si cucu tak bereaksi apa-apa. Wajahnya tetap kaku seperti semula.

Aku hanya bisa memejamkan mata kuat-kuat. Aku tahu sekali, beberapa saat sebelumnya ular-ular merah di tubuh kakeknya ini sebagian keluar dan menuju tubuh si cucu. Mereka kemudian secara perlahan masuk satu demi satu melalui luka di tusukan itu.

Aku tak bisa membayangkan apa lagi yang akan terjadi. Aku hanya tersadar, kalau aku akan terjebak selamanya bersama si mengerikan ini! ***

 

Yudhi Herwibowo. Menulis beberapa buku. Bukunya yang segera rilis: Sang Penggesek Biola, sebuah roman Wage Rudolf Supratman (Imania).

Arsip Cerpen di Indonesia