Ular-ular Merah dalam Tubuh Kakek

 

Aku, si penganggu.

Terserah ia mau menyebutku apa. Tapi, aku jelas lebih berguna dibanding dirinya. Ia tak bisa memungkiri kalau akulah yang membuat kakek tua ini tak terkalahkan sepanjang hidupnya. Sejak terjadi pengeroyokan pertama yang mengerikan itu, aku tahu ia tak bisa menghindari untuk mengagumiku di balik sifat sinisnya. Jelas sekali saat itu sabetan golok mendera tubuh kakek tua ini beberapa kali, tapi ia tetap tak mati. Ia hanya terluka, dan luka selalu bisa disembuhkan. Akulah yang membuatnya seperti itu. Dan kakek tua ini tahu sekali akan hal itu. Ia bahkan sangat bersyukur untuk itu, melebihi syukurnya untuk hal lain.

Kupikir, sejak kakek tua ini memintaku hadir di tubuhnya, ia jadi tak berguna. Aku sebenarnya mencoba mempengaruhi kakek tua ini agar mau melepaskan saja dirinya. Karena tanpa disadari, sebenarnya dirinyalah yang membuat kakek tua ini menjadi seperti pengecut selama ini. Ia selalu nampak was-was, dan akan memilih lari pada hal-hal yang sebenarnya belum terjadi.

Aku benci melihat keadaan itu!

 

Aku tahu, tahun-tahun terakhir ini peranku semakin kecil. Semakin kakek ini menua, dan memutuskan meninggalkan pasar, peranku nyaris lenyap. Aku sebenarnya bisa menerima bila ia melepaskanku. Tapi ia tak melakukannya. Aku merasa, ia masih menyadari kalau akulah yang selama ini membuatnya bertahan hingga di titik ini.

Aku ingat, ia bisa jadi mati 3 kali.

Orang-orang paling mengerikan pernah mendatanginya untuk membalas dendam. Rumahnya telah dikepung. Golok dan pedang sudah diangkat. Aku membisikkan semua itu, dan ia dapat merasakannya dengan jelas. Tapi ia tak tahu harus melarikan diri ke mana. Akulah yang saat itu memandunya. Kugesekkan daun-daun di dekatnya, dan ia mengikuti gesekan itu satu demi satu. Hingga akhirnya ia bisa selamat!

Arsip Cerpen di Indonesia