“Lalu, apa perkara kau tak masukkan pamanmu Saiful bin Malik ke dalam arwah yang dikirim doa tadi? Kau sengaja, kan? Hah!” Bibinya berkacak pinggang, menantangnya. “Tudin bin Seman kau masukkan. Dia paman binimu. Lalu kau pandang apa Saiful bin Malik?!” teriakan bibinya seperti petir yang menyambar lubang cuping Halek, membuat kepalanya sakit dan wajahnya memerah. Senyap. Tak ada yang bersuara, rumah yang baru saja ramai oleh ucapan tahlil dan tahmid telah menjelma kuburan. Semua menunggu dengan dada berdebar.
Sungguh! Halek benar-benar khilaf memasukkan nama itu. Dia tak ingat sama sekali saat menuliskan nama-nama dalam daftar arwah yang akan disebutkan pada doa penutup pembacaan yasin dan tahlil ini. Padahal dia sudah mengingat sebaik mungkin, tetapi apa lacur, nama Saiful bin Malik luput dia tuliskan.
Memang telah menjadi tradisi di kampungnya, Tanah Abang, seusai pembacaan yasin dan tahlil pada acara kematian, akan memanjatkan doa untuk para arwah keluarga ahli musibah. Biasanya ahli musibah akan menuliskan nama-nama leluhur dan keluarganya yang sudah meninggal di secarik kertas dan kertas itu akan dipegang pemimpin doa.
“Aku khilaf, Bi. Tak ada niat untuk meiupakan Mang Saiful.”
“Halah!” Bibinya menepiskan tangan di depan wajah Halek. “Khilaf tapi dengan paman ipar tidak.” Perempuan itu melengos, membuang wajah. “Ingatlah, aku akan mencatat ini. Haram bagiku dan anak-anakku menginjak rumah ini. Kau sendiri yang memutuskan hubungan darah kita. Kau yang jual, aku beli secara kontan.”
Jumaria berbalik, mengangkat kainnya dan menerobos para tamu, menuju pintu dapur.
“Jumaria! Jumaria!”
Halek masih mendengar suara emaknya memanggil nama itu, tapi tak ada sahutan. Dan semua orang menatapnya dengan pandangan yang tak bisa Halek terjemahkan.
***