Doa Arwah

“Seminggu ini Emak teringat terus dengan Jumaria. Saban sembahyang wajahnya terkenang. Apa perkaralah,” ucapan itu emaknya sampaikan seusai sembahyang Isya seminggu silam. Saat Halek, istrinya, dan emaknya menghadap meja makan, sementara anak-anaknya belajar mengaji di langgar.

Istrinya seketika menoleh kepada Halek, tetapi Halek tak berkata sepatah kata pun.

“Dengar-dengar, sakit Bi Jumar semakin parah, Mak,” ujar istrinya.

“Iya, Emak dengar juga.”

“Emak tak nak bezuk?” pertanyaan itu terdengar lirih dan hati-hati. Halek masih melihat istrinya mencuri pandang ke arahnya.

“Tak tahulah. Emak bingung,” emaknya menjawab tanpa menoleh kepada Halek, lalu meja makan menjadi hening. Mereka bertiga makan dalam diam, tersesat dalam pikiran masing-masing. Sebenarnya, Halek ingin sekali berkata pada emaknya, tengoklah Bi Jumar kalau-kalau dia butuh emak sebagai kakak iparnya. Namun kalimat itu seakan tersangkut di kerongkongannya, dia tak dapat mengucapkannya. Dan anak-anak paman bibinya juga tak seorang pun yang bertandang ke rumah, menceritakan penyakit emak mereka yang semakin kronis dan berharap mereka bisa berbaikan sebelum Bi Jumar meninggal dunia.

Halek ingat sekali, semasa kecil, dia sering diasuh oleh bibinya ini. Bahkan dia kerap menginap di rumah bibinya yang sudah punya televisi, menonton bersama anak-anaknya saat malam Minggu. Bibinya baik, tak pernah membedakan mereka. Memang ada sedikit salah paham antara bapaknya dan Mang Saiful, perkara warisan kebun karet dari kakek mereka yang ada di Talang Gula sana. Bapaknya yakin kebun karet yang memiliki enam ratus batang siap sadap itu haknya karena adiknya itu sudah mengambil rumah limas warisan orang tua mereka, sementara Mang Saiful beranggapan itu haknya karena dia yang menghidupi kedua orang tua mereka sampai meninggal dunia, terlebih ketika abangnya itu menikah dulu, orang tua mereka menjual sebidang kebun untuk maskawin dan biaya pesta.

Memang perkara ini tak sampai besar, tak saling lapor ke kades atau ke kantor polisi. Mereka bisa didamaikan oleh keluarga, itu pun Mang Saiful harus memberi uang sebagai penghormatan kepada abangnya. Perkara selesai, hubungan mereka kembali baik. Bahkan bapaknya mengamuk seperti orang kesurupan ketika adik laki-lakinya itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat mengantar getah karet ke Palembang beberapa tahun kemudian.

Arsip Cerpen di Indonesia