Jadi Halek tak pernah habis pikir, kenapa bibinya menuding dia dendam ihwal kebun karet warisan itu? Dia benar-benar khilaf. Tak ingat sama sekali dengan nama Saiful bin Malik, jadi nama itu luput disebutkan saat doa arwah dipanjatkan. Hal yang paling Halek sesalkan saat itu, dia tak sempat memperlihatkan daftar nama dalam doa arwah kepada Emak atau sanak kerabat lainnya. Pikirannya terlalu kalut. Kematian bapaknya yang mendadak dan kesibukan yang tiba-tiba di rumah dalam rangka yasinan dan tahlilan selama tujuh malam telah membuatnya tak bisa konsentrasi.
Halek tak tahu, apa dia dendam atau tidak pada bibinya. Hal yang dia rasakan sejak malam itu hanya satu: bibinya telah mempermalukan dia di depan orang-orang Tanah Abang. Rasa sakit hati dipermalukan itulah yang membuat dia mengikuti irama bibinya.
***
“PAK, soal yang ini aku tak dapat jawab,” anaknya menarik-narik sarung Halek, dia tergagap, lamunannya buyar.
“Soal yang mana?” tanyanya.
“Sebutkan tiga amalan yang tak putus bagi anak Adam walau dia sudah meninggal dunia.”
Halek ingat. Itu pelajaran mengajinya dulu. Guru Taibeng mengatakan, hanya tiga hal dari dunia yang tetap sampai ke anak Adam yang sudah di alam kubur. Doa anak saleh atau saleha. Amal jariah. Dan terakhir ilmu yang bermanfaat.
Dada Halek terasa sesak. Kenapa dia bisa lupa selama ini? Tak ada doa arwah dari orang-orang dalam tiga hal itu. Seketika dadanya terasa kebas dan bayangan wajah Bi Jumar membayang. ***
Pali, 2016-2018
Guntur Alam, buku kumpulan cerpennya Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Gramedia Pustaka Utama, 2015. Kini menetap di Pali, Sumatra Selatan.