INGATAN itu tak akan bisa Halek lupakan seumur hidupnya. Seperti pepatah orang dusunnya, walau putih tulang berkalang tanah, hal buruk akan terus dikenang orang. Peristiwa itu menjadi buah bibir bahkan sampai sekarang. Halek sering mendengar saat menghadiri acara yasinan dan tahlilan kematian, kerabat ahli musibah bertanya pada sanak- keluarganya.
“Sudah diingat semua daftar doa arwah? Jangan sampai ada yang luput. Bisa perang macam Halek dan bibinya Jumaria.”
Bila mendengar hal itu, Halek akan pura-pura tak mendengar atau menyingkir ke bagian pedapuran, tempat lanang-lanang menyiapkan kopi dan teh untuk para pelayat. Di sana, dia akan menyembunyikan diri dalam remang malam.
Seusai kejadian memalukan itu, Jumaria dan semua anak bibinya tak sekali pun menginjakkan kaki di rumah Halek. Bahkan ketika ada acara apa pun, termasuk saat Halek mengkhitan anak laki-lakinya. Dia pun secara perlahan menjaga jarak, mengikuti irama yang telah dibuat oleh bibinya.
Halek juga tahu, seusai malam pertama yasinan dan tahlilan kematian bapaknya, Jumaria mengadakan yasinan dan tahlilan malam Jumat di rumahnya. Tak ada acara istimewa, alasannya terdengar sederhana tapi cukup menampar Halek. Yasinan dan tahlilan itu dibuat untuk almarhum Saiful bin Malik dan dari orang-orang Halek pun tahu saat pembacaan doa arwah namanya bapaknya tak disebutkan sama sekali.
***
BERITA tentang bibinya yang tergolek sakit sejak beberapa bulan lalu memang sudah Halek dengar. Istrinya sekilas pintas pernah menyampaikan itu saat mereka berboncengan ke kebun karet di pagi buta. Namun Halek tak menanggapinya, dia justru mengalihkan pembicaraan tentang anak kedua mereka yang akan lulus SD.
Bibinya dikabarkan kena diabetes basah. Kakinya membusuk dan bernanah, sudah bolak-balik ke rumah sakit di Palembang tetapi tak ada hasil. Setahun terakhir, kondisinya kian parah, bahkan kata tetangga, bau busuk sudah tercium dalam radius beberapa meter dari rumahnya.