Pukau Kuau

Musim pohon berbuah datang dua kali dalam setahun, dan lurah di selatan Bukit Simo adalah tempat berkumpulnya burung-burung berukuran besar. Banun, ayahnya, menemukan kawasan itu secara tidak sengaja ketika ia tersesat saat hendak pulang dari mencari manau. Hutan dengan pepohonan raksasa seperti itu memang terlihat serupa dari segala penjuru. Seekor burung udang menjadi penyelamat ayahnya. Entah sudah berapa kali Banun bolak-balik mengitari tempat yang sama, hingga kemudian ia mendengar lengking burung udang di kejauahan. Ke arah suara itulah ia kemudian menuju. Dan benar saja. Di sana ia menemukan sebuah anak sungai. Ia mengikuti aliran sungai itu ke hilir, dan akhirnya sampai di hulu Batang Nganti.

Di lembah kaki bukit itu pulalah untuk pertama kalinya Sutan melihat secara langsung burung kuau yang selama ini hanya ia lihat dalam bentuk bulu ekor yang dijadikan hiasan dinding di rumah-rumah penduduk. Kuau sebenarnya tidak terlalu menyukai buah pohon, namun entah kenapa hari itu ia ikut menghampiri kawanan burung-burung lain yang tengah makan di sana.

“Pertanda baik.” Begitu Ayahnya berkata saat mereka melihat burung berbulu coklat dengan totol-totol hitam dalam lingkaran terang itu mengeluarkan suara ‘kuwau’ panjang berkali-kali, sebelum akhirnya berlari menjauh begitu mengetahui keberadaan mereka—setidaknya itulah perkiraan Sutan saat itu. Kemudian ia baru tahu kalau ternyata burung kuau yang sedang mereka lihat adalah kuau jantan yang sedang mencari inggilan—semacam tempat lapang untuk dijadikan arena menari untuk memikat si betina pada ritual musim kawin mereka. Dan itu berlangsung bertepatan dengan musim kayu berbuah di hutan.

***

Pohon kayu itu sudah tidak ada lagi di sana. Entah berapa musim buah berlalu. Yang jelas sudah lama sekali. Sejak orang-orang kampung mulai mengerti jumlah rupiah yang tersimpan dalam pokok-pokok kayu hutan, gergaji-gergaji yang digerakkan dengan tenaga mesin pun didatangkan. Dan pohon-pohon besar yang dulunya menjadi tempat makan burung-burung itu tentu sudah jadi potongan kayu untuk dijadikan perabotan di rumah-rumah di kota. Tapi sebanyak apapun kayu yang diambil penduduk kampung tentu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan perusahaan kayu yang disokong pemerintah untuk membabat hutan di utara kampung mereka. Perkebunan sawit dari arah Riau juga sudah menjalar hingga ke peratasan. Menyisakan sejumput hutan di kawasan Lisun, yang jelas hanya menunggu waktu untuk dihabiskan.

Arsip Cerpen di Indonesia