Sutan berjalan mendekat. Hati-hati. Simumuik yang berjalan di belakangnya kembali menyalak, mungkin karena kegirangan melihat binatang buruan yang masuk ke perangkap mereka.
Namun, beberapa langkah sebelum ia memegang ujung tali jeratnya, Sutan menyadari satu hal: mana mungkin kuau berkeliaran tengah malam begini dan memulai ritual kawin. Ada yang tidak beres. Ia memperhatikan lagi binatang yang terjerat temali perangkapnya. Ada sebentuk kepala kucing dengan tubuh belang tengah meringis kesakitan di sana. Ia terpekik. Buru-buru ia meraih senapan, mengokangnya. Namun di detik yang sama, dari arah belakang, didengarnya kaki-kaki yang menjejak berat di atas ranting dan dedaunan kering. Suara letusan senapan beradu dengan sebuah auman keras yang menggema hingga jauh.
Simumuik tak berhenti menyalak.
Â
Jakarta, Agustus 2017