Matahari sudah mulai tinggi, meski di puncak bukit itu kabut masih saja mengapung di pucuk dedaunan. Hening. Hanya kaok rangkong yang sesekali terdengar di kejauhan.
Sutan mengambil sebongkah nasi dari kuntuang, lalu mencampurnya dengan sisa ikan kering yang telah ia bakar dan menyorongkannya ke Simumuik. Anjing itu mengibas-ngibaskan ekornya, berputar-putar untuk kemudian melahap makanan pemberian tuannya. Mengambil kembali nasi dari kuntuang—kali ini tentu untuk dia makan sendiri—Sutan menatap jauh ke dasar lembah. Nun di sana, di antara bukit Batu Tanggo dan bukit Talago, ia melihat rumah-rumah kampung. Kecil saja, lebih kecil dari kotak korek api.
Sutan mengira-ngira letak rumahnya dan membayangkan istri dan anaknya yang mungkin juga tengah makan siang—seperti ia dan Simumuik saat ini. Memakan lauk yang tentu juga sama seperti yang ia bawa: gulai pisang batu tua yang dicampur dengan cipuik lantak—keong yang menjadi hama di sawah-sawah. Pada musim biasa tak ada yang mau memakan keong dengan cangkang tipis bewarna kuning terang itu. Selain dagingnya yang liat dan berbau amis, cipuik lantak memiliki aroma lumpur yang sangat kuat, meski sudah direndam cukup lama dalam perasan asam limau. Tapi di musim susah seperti sekarang, siapa yang peduli dengan semua itu? Perut kosong melilit jauh lebih menyusahkan daripada hal-hal semacam itu.
Masih di jajaran bukit yang sama, ke arah selatan, Sutan melihat dengan jelas puncak Batu Tanggo. Ia menduga Sudin, Jamaan dan buruh angkut kayu lainnya tengah makan siang juga di sana. Mengumpulkan kembali tenaga dengan memakan kepalan-kepalan nasi ang dicampur lauk seadanya, lalu melanjutkan sisa perjalanan membawa balok-balok kayu hasil olahan mesin dari hutan ke gudang penampungan di kampung. Lima jam melewati hutan dan ladang sambil memanggul balok kayu banio sepanjang dua kali lipat tubuh manusia dewasa, mereka diupah dengan sangat rendah. Tapi hidup di kampung tak memberikan banyak pilihan. Karet yang selama ini menjadi tumpuan mereka kini sudah tidak bisa diharapkan lagi. Harganya jatuh ke titik paling rendah.
Kalau saja dua hari yang lalu ia tidak bertemu Bujang Karanih di pasar kecamatan, mungkin sekarang ia sedang berada di antara kawan-kawannya sesama pengangkut kayu itu. Mengaso di punggung bukit Batu Tanggo sambil membayangkan harga karet kembali stabil, sehingga mereka tak perlu lagi naik-turun bukit selama berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah.