Begitu sampai di ujung bukit yang diceritakan Muin, Sutan membawa Simumuik mengitari alur tumbuh pepohonan hingga ke pinggir jurang, lalu mencari titik untuk memasang jerat. Ia harus segera menemukan inggilan kuau yang sedang ia buru jika tidak ingin bermalam di atas dahan pepohonan. Sebelum malam jatuh ia sudah harus mendirikan dangau kecil sebagai tempat istirahat mereka malam itu.
***
Sutan terbangun ketika didengarnya Simumuik menyalak keras berkali-kali. Dalam temaram sinar api unggun, anjingnya itu tampak gelisah. Lidahnya yang menjulur seolah ingin mengatakan sesuatu kepada tuannya. Sutan melihat sekeliling, kalau-kalau ada ular atau binatang lainnya yang datang menyusup. Namun tak ada apa-apa. Ia mengusap punggung anjingnya, namun Simumuik tetap menyalak.
Tepat di saat Sutan kembali merebahkan badannya, dari seberang bukit di dengarnya suara mirip lengkingan yang cukup keras, yang kemudian disusul oleh bunyi lenguhan. Tak salah lagi, suara itu berasal dari jeratnya!
Sepertinya anak babi hutan masuk ke sana. Ia harus menyingkirkan anak babi sialan itu sebelum jeratnya hancur. Sebuah tembakan dari senapannya tentu akan mengusir rombongan babi hutan yang ia tahu akan terus berada di dekat perangkapnya untuk menjaga anggota kawanan mereka yang kesakitan sampai esok hari. Ia tentu saja akan menyembelih babi hutan yang kini meronta-ronta di perangkapnya itu.
Mengambil senapan dan senter, Sutan berlari-lari kecil menuntun Simumuik menuju seberang bukit tempat mereka memasang jerat. Langit dengan bulat sabit menyisakan sedikit pendar cahaya hingga ke tanah. Ternyata suara lengkingan itu bukan berasal dari anak babi seperti ia pikir beberapa saat yang lalu. Binatang yang terjerat itu tak lain adalah seekor kuau jantan yang sedang ia cari! Burung dengan taji tajam itu mengepak-ngepakkan sayapnya, mencoba terlepas dari jeratan temali yang membebatnya. Namun tentu saja, semakin ia berontak, tali jerat akan semakin membelenggunya.
“Kena kau!”