Pukau Kuau

Bujang Karanih adalah kenalan lamanya yang kini bekerja sebagai penadah barang-barang antik. Ada-ada saja yang dicari oleh Bujang Karanih, mulai dari tokek sebesar anak biawak, mustika bingkaruang, kulit sanca putih, hingga bambu bercabang tiga. Meski sebagian besar apa yang dicari Bujang Karanih terdengar tak masuk akal, namun entah karena kebaikan apa, usahanya tetap bertahan. Setidaknya, demikian Sutan menilai, ia tak harus bersusah-payah seperti orang-orang di kampung.

Dan kepada Sutan, ia datang dengan tawaran yang sangat menggiurkan. “Aku tahu kau pemburu yang hebat. Tolong carikan aku seekor burung kuau. Jantan atau betina. Tapi harus dalam keadaan hidup.” Bujang Karaniah lalu menggerakkan telunjuk dan ibu jarinya, “Akan kubeli dengan harga mahal kuau yang berhasil kau tangkap!”

“Berapa?” Sutan bertanya, sekadar memastikan bahwa Bujang Karaniah tidak sedang membual. Ia mempercayai laki-laki kerempeng itu, tapi di saat susah seperti sekarang siapa saja bisa menjadi penipu.

Bujang Karaniah menyebutkan angka yang terdengar sangat banyak di telinga Sutan.

“Akan kupotong burungmu kalau kau berbohong!” Ancam Sutan sesaat sebelum mereka berpisah.

***

Bayang-bayang sudah sepenuhnya memanjang ke Timur ketika Sutan dan anjingnya melewati Lurah Sembilan, tempat terjauh di hutan itu yang pernah ia sambangi. Para pencari ikan atau manau biasanya masuk hingga mencapai muara dua sungai di perbatasan Batang Singingi. Namun Sutan tak akan pergi sejauh itu. Dari cerita yang ia dengar dari Muin, sepasang kuau masih sering terlihat di perbukitan di seberang Lurah Sembilan.

“Yang jantan berbadan besar dengan ekor panjang meliuk. Sementara yang betina memiliki warna yang sedikit kusam.”

“Aku hanya perlu seekor,” ujar Sutan.

“Tapi kau tentu tahu, kuau bukan jenis burung bebal seperti murai atau punai. Tak gampang menangkap mereka. Bapakku pernah bilang kalau kuau punya tuah yang tak dimiliki burung-burung lain.”

“Pemburu juga punya tuah.”

Dan tuah itulah yang membawa Sutan masuk jauh ke dalam hutan bersama anjingnya.

Arsip Cerpen di Indonesia