Bapak Ingin Jadi Halimun

Belakangan aku tahu, tamu-tamu yang pernah berkumpul di rumah Bapak itu adalah kolega-kolega kepercayaannya. Merekalah penyampai informasi awal bahwa Bapak menjadi tersangka kasus korupsi. Mereka kemudian kerap berembuk bersiasat mengatur strategi meloloskan Bapak dari jerat tersangka. Kejadian itu meluluhkan keyakinanku, melesapkan kebanggaanku kepada Bapak.

Dan di suatu sore yang muram, heboh berita Bapak dijemput petugas pemberantasan korupsi membuatku bergegas meluncur ke rumah Bapak. Kelok takdir ternyata lain: Bapak malah dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung. Sebelas jam kemudian, Bapak mengernbuskan napas terakhirnya.

***

HASIL rembuk dengan adik-adikku menyepakati lubang kubur untuk Bapak yang berada paling atas. Dua lubang lainnya ditimbun kembali. Otakku benar-benar sudah beku, tidak bisa lagi memikirkan cara lain, kala memerin tahkan mencemplungkan jasad Bapak ke dalam genangan air di dalam lubang pemakamannya.

Dengan hati-hati dan amat pelan, petugas pemakaman membaringkan jasad Bapak di dasar lubang, dalam genangan air. Papan penutup ditekan kuat, bahkan ditindih batu, lalu berlekas menguruk tanah ke dalam genangan air. Kami saling kejar dengan kekhawatiran rembesan air akan bertambah dan menderas, yang bisa mendorong jasad Bapak keluar dari lubang kubumya.

Dalam bisik lirih, dengan sendat tertahan, kupaksakan menghibur adik-adikku, “Wasiat Bapak dimakamkan di sini sudah kita jalankan.”

***

Arsip Cerpen di Indonesia