PENGUBURAN selesai. Kami berkumpul di ruang tengah Vila. Riung oceh cucu-cucu Bapak kemudian, kian menoreh pedih perasaanku.
“Kasihan Kakek, bisa kelelap di dalam lubang itu.”
“Gimana Kakek bisa bernapas? Kakek menyelam, dong.”
“Kenapa, sih, Kakek dibikin kelelap begitu?”
Kuperam pedih perasaanku. Aku berharap cucu-cucu Bapak yang masih kanak ini belum paham kelakuan kakek kebanggaannya.
Percakapan terakhirku dengan Bapak, ketika berita ia sudah menjadi tersangka korupsi makin marak terdengar, ikut menyusup ke dalam ingatanku.
“Bapak pernah bilang ingin moksa,” gugatku ketika itu.
“Bapak bilang ingin menjelma jadi halimun saja.”
“Karena, serasa saya ingin menghilang … atau melayang, tanpa ada yang bisa melihat…,” bilang Bapak.
Bapak menjungkirkan anggapanku selama ini! Niat Bapak yang semula kuduga mulia itu ternyata hanya mau berkelit, keinginan menghilang dari depan publik, kala perbuatan korupnya yang selama ini rapi terlipat mulai terkuak. Kudapati kemudian diriku serupa anak-anak yang menemukan mainan istana pasir yang dibangunnya runtuh ketika kaki-kaki orang menginjak-injaknya. Aku masygul dan sangat kecewa. Bapak sukses membuat kami anak-anaknya bangga, sukses pula mempermalukan kami.